Waspada! Gejala DBD Mirip Demam Biasa, Jangan Sampai Terlambat Ditangani

- 17 Januari 2024, 21:34 WIB
Ilustrasi nyamuk penyebab DBD.
Ilustrasi nyamuk penyebab DBD. /Pikiran Rakyat/Satira Yudatama/

GALAJABAR - Memasuki musim penghujan, berbagai penyakit semakin merebak termasuk DBD atau  demam berdarah dengue.

Berbagai gejala yang menyertai penyakit DBD itu seperti demam tinggi, di kulit muncul bercak-bercak merah, sakit kepala, dan lain-lain.

Namun seringkali orang tidak menyadari sudah terjangkit DBD karena mengira mereka hanya mengalami demam biasa.

Wakil Menteri Kesehatan Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, SpPD-KEMD, Ph.D, menyatakan demam yang sebenarnya pertanda demam berdarah dengue (DBD) sering dianggap demam biasa sehingga pasien terlambat dibawa ke rumah sakit.

Baca Juga: Upaya Penurunan Stunting di Kota Bandung, Sekda: Harus Berkolaborasi Lintas Sektor

"Yang tadinya dianggap sebagai demam biasa, sebenarnya kasus demam berdarah," kata Dante dalam video sambutan saat acara “Peran Masyarakat dalam Perlindungan Keluarga terhadap Ancaman Dengue/DBD" di Jakarta, Rabu (17/1/2024).

Disebutkan angka kematian akibat demam berdarah mencapai 1-50 hingga 50-122. Salah satu penyebab kematian akibat DBD adalah pasien terlambat dibawa ke rumah sakit.

Merujuk data Kementerian Kesehatan, terungkap  angka kasus mencapai 98.071 pada tahun 2023, dengan 764 angka kematian, sementara pada 2022 tercatat ada 143.176 kasus dengan angka kematian mencapai 1.236.

Dante mengungkap Pemerintah telah melakukan berbagai upaya pengendalian dengue, mulai dari larvasida sekitar tahun 1980-an, fogging (pengasapan) mulai tahun 1990-an, kemudian program Jumantik tahun 2000-an.

Baca Juga: Waspadai Penyakit Kulit Saat Musim Hujan, Pakar Membagikan Tips, Sunscreen Wajib Dipakai Meski Hujan?

Ia berharap pemerintah bisa mendapatkan upaya yang lebih advance (maju) dan lebih baik serta lebih dini dalam upaya untuk mengatasi demam berdarah dengue pada masa yang akan datang.

Pada kesempatan yang sama, Dokter dari Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia Prof. Dr. dr. Erni Juwita Nelwan, SpPD-KPTI, Ph.D, mengatakan demam pada DBD bisa berlangsung beberapa hari lalu membaik sehingga seringkali dianggap sembuh oleh pasien.

"Kondisi itu bisa menyebabkan keterlambatan penanganan sehingga kasusnya berkembang lebih berat," ujarnya.

Kita perlu curiga jika pagi-pagi masih beraktvitas tapi kemudian sore langsung demam tinggi, disertai dengan sakit kepala luar biasa dan pembesaran hati.

Baca Juga: 6 Dampak Minum Es Saat Berbuka Puasa Ramadhan, Salah Satunya Memicu Datangnya Penyakit Tertentu

Para orang tua harus waspada karena anak-anak dinilai rentan terkena DBD. Angka kematian akibat DBD lebih banyak pada kelompok usia 5-16 tahun.

"Sementara pada orang dewasa, kasus DBD bisa menjadi berat akibat penyakit penyerta seperti hipertensi dan diabetes" pungkas Erni.***

Editor: Lina Lutan


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah