Waspadai Gempa Megathrust Selat Sunda dengan Magnitudo 8,7 BMKG: Ini Ancaman Sesuangguhnya

- 15 Januari 2022, 14:21 WIB
Ilustrasi: Waspadai Gempa Megathrust Selat Sunda dengan Magnitudo 8,7. BMKG: Ini Ancaman Sesuangguhnya
Ilustrasi: Waspadai Gempa Megathrust Selat Sunda dengan Magnitudo 8,7. BMKG: Ini Ancaman Sesuangguhnya //PIXABAY/Tumisu


GALAJABAR - Segmen megathrust Selat Sunda merupakan salah satu zona seismik gap di Indonesia yang selama ratusan tahun belum terjadi gempa besar, sehingga patut diwaspadai.

Gempa Ujung Kulon, Banten kemarin sebenarnya bukan ancaman sesungguhnya karena segmen megathrust Selat Sunda mampu memicu gempa dengan magnitudo tertarget mencapai 8,7.

"Dan kondisi ini dapat terjadi sewaktu-waktu, inilah ancaman yang sesungguhnya," ungkap Koordinator Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono di Jakarta, Sabtu, 15 Januari 2022.

Baca Juga: Operasi Pasar Minyak Goreng Digelar di 27 Kota/Kabupaten, Ridwan Kamil Pastikan Distribusinya Tepat Sasara

Menurutnya, hingga saat ini belum ada teknologi yang bisa memprediksi kapan gempa terjadi, dengan kondisi ratusan tahun belum terjadi gempa besar di Selat Sunda patut diwaspadai.

Karena berada di antara dua lokasi gempa besar yang merusak dan memicu tsunami, yaitu Gempa Pangandaran magnitudo 7,7 pada 2006 dan Gempa Bengkulu magnitudo 8,5 pada 2007.

Berdasarkan catatan sejarah gempa dan tsunami, di wilayah Selat Sunda memang sering terjadi tsunami, tercatat Tsunami Selat Sunda pada 1722, 1852, dan 1958 disebabkan oleh gempa.

Kemudian, Tsunami pada 416, 1883, 1928, 2018 berkaitan dengan erupsi Gunung Krakatau. Sedangkan tsunami tahun 1851, 1883 dan 1889 dipicu aktivitas longsoran.

Baca Juga: Omicron Tembus 500 Kasus, Luhut Minta Pakar Siapkan Skenario, Pakar Eijkman: Pengawasan Dipertajam

Daryono mengatakan gempa kuat dan tsunami adalah proses alam yang tidak dapat dihentikan, bahkan memprediksi kapan terjadinya pun juga belum bisa.

Halaman:

Editor: Hj. Eli Siti Wasilah


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network