Benang Merah (Chapter 2)

- 11 Januari 2021, 10:59 WIB
ilustrasi benang merah
ilustrasi benang merah /Myriams-Fotos/Pixabay



GALAJABAR - Pada chapter sebelumnya dikisahkan, seperti kebanyakan kaum hawa lainnya, Nia Amanda dan Iriana Jeni terbawa hawa gosip dan mulai membicarakan topik hangat yang sedang ramai di perusahaan tempatnya bekerja.

Tapi, siapa yang sangka orang yang sedang mereka bicarakan malah muncul di hadapan mereka.

Erwin Sianturi memberi bumbu baru pada gosip yang sedang ramai itu dengan melakukan sesuatu yang di luar dugaan banyak orang.

Terutama seorang Nia Amanda. Bagi Nia, itu adalah hal yang tidak mungkin terjadi.

Ikuti cerita bersambung karya Sadrina Suhendra selanjutnya;

Baca Juga: Sriwijaya Air Jatuh, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau Sampaikan Belasungkawa: Sungguh Memilukan

Suasana ruang rapat sangat hening, terutama karena Nia sedang mempresentasikan topik utama dari rapat tersebut.

Ia bahkan menggunakan hampir semua materi yang Erwin berikan padanya.

“Seperti untuk berita-berita besok, jika tim yang kalah adalah tim favorit para pembaca, mungkin saja judul beritanya tidak berfokus tim pemenang, tapi tetap pada tim yang kalah."

"Itu akan menarik keuntungan lebih untuk kita,” Nia menjelaskan presentasinya sedetail mungkin.

“Kayaknya dia lebih paham sama materi yang Kak Erwin kasih dari pada materi resmi dari kantor,” gumam Jeni yang duduk di samping Andi.

Baca Juga: Juventus vs Sassuolo, Ronaldo cs Baru Mampu Cetak Gol Usai Tamu Bermain 10 Orang

“Bener, tuh!” tunjuk Andi.

“Ada yang ingin bertanya atau memberi masukan?” tanya Nia yang mengakhiri presentasinya.

Waktu pun berlalu dan rapat selesai. Satu persatu karyawan yang bekerja mulai meninggalkan meja mereka, mengingat memang sudah jam pulang.

Tapi sepertinya, Nia yang sangat mengagungkan kesempurnaan masih asik membereskan berkas dan data bekas presentasinya.

“Nia,” panggil seseorang.

Baca Juga: Tetap Waspada, Senin 11 Januari 2021, Wilayah Jakarta Diprediksi Hujan Disertai Petir

Yang dipanggil langsung tersentak dan menjatuhkan ponselnya sendiri.

Tanpa berbalik dan menatap orangnya pun, Nia dapat mengenali si pemilik suara dingin dan datar itu.

“E-Erwin?” panik Nia.

Ia masih terkejut dengan apa yang dilakukan Erwin saat istirahat makan siang.

“Erwin, kita bal- hufft!“ Baru saja berniat memanggil Erwin, Andi merasa seseorang langsung menyumpal mulutnya.

Andi menyadari kalau itu hanya Jeni. Ia menarik tangan yang menyumpalnya itu. “Kenapa, sih?!”

Baca Juga: Ajax vs PSV, Sempat Tertinggal dua Gol, Tuan Rumah Sukses Hindari Malu di Stadion Johan Cruff

“Diem dulu!” titah Jeni. “Lihat, tuh!” tunjuk Jeni pada Erwin yang sedang berbicara dengan Nia.

“Maaf, aku gak maksud ngagetin,” datarnya seraya mengambil ponsel Nia yang terjatuh.

“G-gak apa-apa. Itu bukan masalah,” gagap Nia.

“Setahuku, Nia itu cewek independen yang bakal galak atau ketusin cowok. Atau aku salah?” tanya Andi dari kejauhan yang masih menguping bersama Jeni.

“Nia emang gitu. Entah kalau sekarang,” jawab Jeni.

“Sebelum pulang, mau ngopi sebentar di kedai bawah gak?” tawar Erwin yang langsung pada poinnya, membuat Andi dan Jeni menahan tawanya.

Baca Juga: Marine FC vs Tottenham, Bantai Tim Strata Terendah, Pemain 16 Tahun Alfie Devine Cacat Sejarah

Pada dasarnya, Erwin bukanlah tipikal pria yang bertele-tele.
Buktinya, saat mengajak Nia untuk minum kopi, Erwin langsung bertanya sambil menatap manik Nia.

Tidak seperti kebanyakan laki-laki muda yang tidak serius dan akan mengalihkan pandangannya saat bertanya.

“T-tapi,” ragu Nia.

“Aku yang bayar.”

“Eh?!” kaget Nia dengan kespontanan dari Erwin. Hana menutup setengah wajahnya dengan mukanya dengan berkas kertas yang ia bawa. Ia menutupi rona merah di wajahnya. “T-tentu.”

Yang gagal Nia lihat, Erwin baru saja tersenyum tipis. (bersambung)**

Editor: Brilliant Awal


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah