Benang Merah (Chapter 5)

- 14 Januari 2021, 08:30 WIB
ilustrasi benang merah
ilustrasi benang merah /Myriams-Fotos/Pixabay

GALAJABAR - Pada chapter sebelumnya dikisahkan, saat tetesan terakhir dari cangkir kopi sudah habis, seseorang memanggil Nia dari sisi lain telpon.

Nia yang penuh dengan kekalahan pun memutuskan untuk menurut.

Tapi saat isi cangkirnya benar-benar bersih tak berteteskan cairan apapun.

Sebuah kepulan asap melewatinya, memberitahu bahwa benang merah tidak akan tersambung apabila benang satunya tidak serasi.

Ikuti cerita bersambung karya Sadrina Suhendra selanjutnya.

Baca Juga: Dinas Kesehatan Kota Bandung Distribusikan 25.000 Vaksin Covid-19 ke 191 Fasilitas Kesehatan

Nia mengecek setiap perlengkapan kuliahnya sebelum memasuki gerbang kampus.

Ia hampir lupa kalau mungkin teman-temannya sudah menunggu.
Maklum saja, Nia yang biasanya selalu bangun lebih awal malah kesiangan karena tidur terlalu larut.

“Nizar, Nina! Maaf lama.” Nia langsung meminta maaf saat melihat kedua temannya yang sudah menunggu cukup lama.

“Lama bener, sih!” gerutu seorang wanita yang tidak lain adalah Nina.

“Sorry, aku ngejar batas waktu yang dosen kasih buat nanti malem.”
Itu suatu kebohongan. Di antara ketiganya, hanya Nia dan Nizar yang tahu kalau itu kebohongan.

Baca Juga: Kalahkan Marseille, PSG Juara Piala Super Prancis ke-8 Kali Secara Beruntun

Tapi, Nizar hanya diam. Ia adalah salah satu alasan keterlambatan Nizar tersebut. Memasak dan membersihkan rumah yang sangat besar bukanlah hal yang mudah.

“Kamu bakal kerja lagi nanti siang?” tanya Nina.

Nia hanya mengangguk dan berusaha fokus pada buku yang sedang ia baca.

“Aku sama Nizar bakal dateng. Dia udah pesenin tiketnya buat kita,” tutur Nina.

“Eh?” bingung Nia yang jelas langsung mengalihkan pandangan dari buku.

“Nizar?” tanya Nia pada kekasihnya itu, memastikan apa semua yang ia dengar dari Nina adalah suatu kebenaran.

Baca Juga: Ariel Noah dan Risa Sarasvati Bakal Divaksin Covid-19 Pagi Ini

Nizar yang sedang asik berselancar di lini masa langsung mematikan ponselnya.

“Iya. Tapi karena kalau berangkat pagi kita kuliah dan bakal lama, aku sama Nina bakal sengaja agak telat biar gak terlalu penuh. Jadi, tepat pas pertandingannya baru mau mulai banget,” jelas Nizar.

“O-oh,” jawab Nia seadanya. Ia kembali fokus pada bukunya.
Meskipun, pikirannya malah buyar entah kemana.

“Benang merah itu gak akan kesambung kalau benang satunya lagi gak sesuai.”

Kaliamt yang Erwin katakan kemarin sore kembali melintas di pikiran Nia. Ia menghela napasnya.

Baca Juga: Gawat ! Tiap Hari Bertambah 10 Ribu Kasus Positif Covid-19, Rumah Sakit Terancam Penuh

Detik, menit, dan jam berlalu sangat cepat. Meskipun, Nia merasa itu sudah cukup lama untuk dirinya.

“Sampai ketemu di kelas selanjutnya.” Beruntung dosennya segera menutup kelas hari itu.

Setelah dosennya keluar dari ruang kelas, Nia segera mengemasi barang-barangnya.

Ia mengeluarkan sedikit riasan wajahnya, membantu wajahnya untuk nampak kembali segar.

Ia juga segera mengeluarkan tanda pengenalnya.

“Wah, udah siang banget!” panik Nia.

“Eh? Nizar, gak nganter Nia?” tanya Nina pada Nizar.

Baca Juga: Pengiriman dari Distributor Terhambat, Picu Kelangkaan Pupuk Bersubsidi di Kabupaten Cirebon

Nizar yang baru menutup bukunya pun langsung menatap Nia dan Nina.
“Kalau sendiri, gak apa-apa, ‘kan?” tanya Nizar sedikit lebih halus.

“Aku masih harus bantuin dosen sebentar. Takutnya kamu telat.”

Nia hanya tersenyum. “Iya, gak apa-apa. Kayaknya pakai angkutan umum bakal lebih cepet.”

Itu mungkin yang Nia katakan dengan bibirnya. Tapi di hatinya, “gak ada niat ngasih ongkos apa?”

Nina hanya bisa menepuk jidatnya. “Kalian ini, serius mau berkeluarga atau gak, sih?!” heran Nina.

“Yang udah nikah diem deh!” kesal Nia dan Nizar bersamaan.

Baca Juga: Dua Jam Setelah Divaksin Sinovac, Ini yang Dirasakan Presiden Joko Widodo

“Nizar, serius dikit kek. Gak peka banget!” gerutu Nina.

Nia hanya tersenyum tipis, tahu semua kode yang Nina berikan tidak akan mempan pada Nizar.

“Ngebagi dua hidup? Kalau gitu gak usah nikah aja sekalian. Toh, benang merahnya gak akan nyambung kalau kayak gitu. Gak gent-“

“Udah aku bilang, yang udah nikah diem aja!” Nia menyumpal mulut Nina yang baru saja akan membocorkan permasalahannya dengan Nizar.

Untuk kesekian kalinya di hari itu, Nia menghela napasnya.

Ia menarik tangannya yang sebelumnya menyumpal mulut Nina.

Baca Juga: Ketahuan Melanggar PPKM, Empat Minimarket di Kota Bandung Disegel

“Aku ini ngebela kamu!” bisik Nina sedikit lebih keras.

“Makasih,” jawab Nia singkat. “Kalau emang jodoh, ya kita bakal bareng. Kalau gak, ya berarti sama yang lain. Gak sulit, ‘kan?” tanya Nia.

Ia mengambil tasnya. Ia sudah tidak ingin berdebat lagi tentang hubungannya dengan kekasih dan sahabatnya sendiri.

Di sisi lain, Nizar juga sepertinya sudah tidak mau membahasnya. Ia adalah tipikal orang yang akan teguh pada satu keputusan, termasuk untuk Nia, kekasihnya sendiri.

Bersambung...***

Editor: Brilliant Awal


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah