Benang Merah (Chapter 6)

- 15 Januari 2021, 08:58 WIB
ilustrasi benang merah
ilustrasi benang merah /Myriams-Fotos/Pixabay



GALAJABAR - Pada chapter Sebelumnya dikisahkan, semua kekhawatiran yang pernah Nia ceritakan pada Erwin terbukti langsung oleh Nizar yang memang teguh pada satu keputusannya.

Dengan itu, sekali lagi, perkataan Erwin kembali terbukti benar melalui sahabatnya, Nina, bahwa benang merah tidak akan tersambung jika benang satunya tidak sesuai.

Ikuti cerita bersambung karya Sadrina Suhendra selanjutnya

“Nia belum datang?” tanya Andi yang sedang menyiapkan kameranya.

“Panggilan telponku gak diangkat,” lapor Jeni juga.

“Erwin, kamu udah nyoba nelpon?” tanya Andi lagi.

Baca Juga: Kebijakan Privasi Diubah, WhatsApp Dituntut di India

“Hm?” Erwin berbalik. “Kayaknya dia kejebak di luar sama kerumunan supporter lain. Bentar lagi juga masuk. Dia ‘kan punya tanda pengenal,” ujar Erwin dengan tenangnya.

“Kalian, maaf telat.”

“Nah, ‘kan. Panjang umur,” tutur Erwin.

“Yo, Nia,” sapa Andi.

“Baru aja diomongin,” kekeh Jeni.

“Eh?” bingung Nia. Tapi, ia segera mengabaikan pertanyaannya sendiri itu.

“Jadi, aku kebagian ngapain aja?” tanya Nia.

Erwin langsung memberinya selembar kertas. “Tugasmu yang pakai sorotan kuning.”

“Jadi, aku cuman perlu ngelapor sesuai situasi?”

Baca Juga: Athletic Bilbao Singkirkan Real Madrid, El Clasico di Partai Final Piala Super Spanyol Buyar

“Iya. Karena aku juga ada di lapang, jadi gak perlu ditambah atau dikurangi. Sejujur-jujurnya aja.”

Jeni dan Andi tersenyum saat melihat kedua insan Tuhan itu berdiskusi. Pekerjaan mereka masih sangat-sangat panjang.

Ramainya stadion menjadi salah satu alasan kenapa Nia seperti terburu-buru. Ia jadi tidak bisa fokus karena suara yang amat bising dari sana-sini.

“Win, lepas dulu rokonya. Kenapa, sih?” Andi nampak kesal. Pasalnya, Erwin masih sempat-sempatnya merokok saat semua sibuk meliput.

“Yaudah, aku ngerokok dulu. Kick-off babak dua juga masih lama.”

“Diem dulu!” Andi menarik kerah pakaian Erwin.
“Sebentar!” Erwin pun tidak bisa melawan lagi.

Baca Juga: Arsenal vs Crystal Palace, Catatan Kemenangan Beruntun The Gunners Terhenti

Semua pekerjaan hari itu berjalan lancar. Semua karyawan memastikan tugas mereka selesai sebelum benar-benar meninggalkan stadion tersebut.

Andi, Erwin, Jeni dan Nia masih asik mengobrol sambil menikmati konsumsi makan malam mereka.

“Ngik!!!”

Jeni hampir menumpahkan botol minumannya setelah Nia berteriak. “Apa?!”

“Teriaknya kayak monyet baru ketabrak,” komen Andi yang langsung mendapat pukulan dari Jeni. “Sakit, woy!”

“Kenapa?” tanya Erwin langsung pada poinnya.

“Besok pagi-” kalimat Nia terpotong saat ponselnya berdenting, menandakan pesan masuk.

Baca Juga: Gempa Berkekuatan 6,2 SR Kembali Guncang Mamuju, Sejumlah Bangunan Betingkat Roboh

“Dimana? Masih lama?”

Itu isi pesan yang ia baca. Tentu saja, Nizar yang mengirim pesan itu.

Ia berniat untuk pulang bersama dengan kekasihnya, mengingat ia juga menonton pertandingan itu saat Nia bekerja.

“Udah, kok. Aku tinggal pamit sama yang lain.”

Itu yang Nia ketik sebagai balasan pesan sebelumnya. Nia langsung menarik tasnya. “Kalian, aku duluan, ya? Aku udah ada yang nungguin.”

“Iya, hati-hati!” balas yang lain.

“Eh? Udah mau pulang lagi?” tanya Jeni yang nampak kecewa.

“Nizar udah nungguin. Aku gak enak,” jelas Hana.

Baca Juga: Ternyata, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ada di Indonesia

Mendengar nama Nizar, Erwin langsung mematikan rokoknya. Ia ikut berdiri dan menarik tasnya.

“Kak Erwin juga?” tanya Jeni.

“Aku pengen tidur,” alasan singkat yang masuk akal untuk orang yang baru saja meliput sepertinya.
Jeni hanya bisa menghela napas. “Oke, hati-hati.”

Nia terdiam, mengikuti gerak-gerik Erwin.

Erwin yang merasa diperhatikan pun langsung memperhatikan Nia balik. “Kenapa? Katanya mau pulang?”

“O-oh, iya.”

Erwin dan Nia berjalan menuju pintu masuk. Nia menggenggam erat jinjingan tasnya. “Eum, Erwin,” panggil Nia.

“Hm?”

Baca Juga: Innalillahi....Kamp Pengungsi Rohingya Terbakar

“Kamu mau duluan, gak? Aku gak enak sama- eh?!”
Perkataan Nia terhenti saat ia melihat Erwin berjalan mendahuluinya.

Tapi, Erwin sadar Nia tidak berjalan mengikutinya.
“Katanya aku duluan?” tanya Erwin memastikan.

“Bukan gitu!” Nia sedikit berteriak.

“Lalu?”

“Maksudnya, kamu pulang duluan. Sampe aku gak bisa liat kamu, baru aku keluar dari gerbang.”

Erwin berbalik sepenuhnya untuk menghadap Nia.
“Kenapa?” tanyanya singkat. “Takut kena marah pasangan kamu? Atau dia pernah physical abuse sama kamu, makanya kamu setakut itu?” tebak Erwin.

“Bukan gitu!”

“Terus?”

Nia menunduk. Ia pun berjalan melewati Erwin. “Lupain aja,” lirihnya.

Sesampainya di gerbang keluar, Nia berhenti di hadapan kekasihnya itu.

“Yuk!” ajak Nia. Tapi, ia menyadari Nizar mengerutkan keningnya.

Ia juga sadar kalau Nizar tidak menatapnya, tapi pada seseorang di belakangnya. Tentu, Nia berbalik.

Entah Nia harus terkejut atau tidak, tapi ada Erwin yang sudah berdiri di belakangnya.

Baca Juga: Akibat Pandemi Covid-19, Giliran Laga Aston Villa melawan Everton yang Ditunda

Mereka berdua terdiam. Nia tahu ini akan sangat merepotkan, karena itulah sebelumnya Nia meminta Erwin untuk pulang duluan.

“Apa Nia bekerja dengan baik di kantornya?” tanya Nizar tiba-tiba, membuat pemilik nama yang dicantumkan tersentak.

“Ya, begitulah. Dia cukup baik. Terus, emang kamu siapa sampai nanya kayak gitu. Ayahnya?”

Nia kembali dibuat tersentak oleh jawaban Erwin yang jelas akan menyulut amarah siapa saja.

“Ha?-”

“Udah, Nizar! Kita pulang aja, yuk?” Sebelum perdebatan dan perkelahian terjadi, Nia menghentikan kekasihnya duluan.

Baca Juga: Ini Komentar Satgas Covid-19 Terkait Perilaku Raffi Ahmad

Nia menarik tangan Nizar. “Erwin, kita duluan, ya? Makasih kerja kerasnya hari ini.”

Sebelum keduanya benar-benar pergi, Nizar menatap tajam Erwin. Erwin hanya menyeringai. “Dasar, laki-laki gak tahu nilai perempuan!”

Bersambung...***

Editor: Brilliant Awal


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Pemilu di Daerah

x