Mereka yang Kau Tulis (Chapter 16)

- 5 Februari 2021, 09:28 WIB
Ilustrasi menulis
Ilustrasi menulis /PIXABAY.com/StokSnap



GALAJABAR - Pada chapter sebelumnya dikisahkan, Leona yang keras kepala ingin menyelamatkan Alecdora pun nekat menenggelamkan diri ke danau.

Demi Alecdora, ia berjanji bahwa ceritanya tidak akan berakhir dalam tragedi.

Ia juga bersumpah bahwa ia dan Alecdora akan bahagia, namun tidak di tepian dekat, melainkan di tepian jauh, di dalam cerita yang Leona tulis.

Ikuti cerita bersambung karya Sadrina Suhendra selanjutnya.

“Dadaku terasa sesak,” gumam Leona di ujung kesadarannya.

“Kakanda, maafkan aku,” bahkan di akhir napasnya pun, Leona masih mengingat kakaknya itu. “Padahal aku sudah berjanji untuk tidak mendekati bahaya.”

Baca Juga: Mereka yang Kau Tulis (Chapter 6)

Saat itu pun, napas Leona habis dan Leona tak sadarkan diri.

DAPP! Tapi, seseorang yang langsung menarik tangan Leona sebelum Leona benar-benar menyentuh kedalaman danau.
Orang berseragam serba putih yang sebelumnya ikut melompat ke danau untuk menolong Leona, membawa Leona berenang ke tepian sebelum paru-parunya berhenti berfungsi.

Arunika hijau khas milik Alecdora membulat sempurna, menandakan ia terkejut.

Alecdora melihat semuanya. Bagaimana pria yang selama ini tidak bisa Leona terima justru mencintainya dengan sangat dalam.

Baca Juga: Mereka yang Kau Tulis (Chapter 7)

Dari caranya mendekat Leona dengan penuh perlindungan dan kasih sayang, ia tahu bahwa pria itu sangat mencintai Leona.

Tangan Alecdora bergetat hebat. Ia baru saja melihat bentuk cinta sejati yang selama ini dirinya dambakan. Ia terkesan sekaligus bingung.

Bagaimana bisa Leona tidak menginginkan pria sehebat itu.

Di permukaan, pria yang tadi menolong Leona membaringkan Leona dalam pangkuannya. “Leona! Leona!” teriaknya, berharap itu bisa membangunkan Leona.

Ekspresi pria itu menunjukan rasa takut dan khawatir yang berlebih. “Leona!”

Leona perlahan membuka matanya, memperlihatkan manik kacanya.

Tatapannya sangat sayup dan dadanya masih terasa sesak. “Leona,” lirih pria itu, masih dengan tatapan khawatir.

“W-William,” lirih Leona saat menyadari bahwa orang yang sedang menatapnya dengan penuh rasa takut dan khawatir itu adalah calon suaminya, William.

Baca Juga: Mereka yang Kau Tulis (Chapter 8)

William tersenyum sayup dan merasa lega karena Leona masih bisa bernapas.

“Bodoh!” gerutunya seraya mendekap Leona ke pelukannya. Tubuh William bergetar karena menahan dingin dan tangisnya sendiri.

“Bodoh,” lirihnya sekali lagi, berbisik pada telinga gadis lemah tersebut. Ia sangat-sangat takut kehilangan Leona.

“William,” lirih Leona pecah karena tangisnya. Ia sadar, sehangat dan setulus apa pelukan William.

Leona sadar bahwa William tidak asal menikahinya hanya karena posisinya sebagai perwira tinggi. Air mata jatuh ke pipi Leona.

Dari kejauhan, Leo yang nampaknya baru sampai pun langsung terdiam saat melihat adik perempuannya itu ada dalam pelukan William. Tapi, ia terkejut saat melihat sosok yang naik ke permukaan air.

Semua orang sadar, hujan dan badai angin sudah berhenti. William mungkin bukan Penulis Hantu dan tidak bisa melihat sosok, arwah, atau bayangan Alecdora.

Namun, karena ia sedang mendekap Leona, William bisa melihat sosok yang berdiri di permukaan air itu dan berjalan ke tepian danau.

Manik Leona yang sayup hanya bisa menoleh sedikit untuk menatap sosok tersebut. “Alecdora,” lirihnya.

Baca Juga: Mereka yang Kau Tulis (Chapter 10)

Sosok Alecdora itu menatap Leona dengan tatapan yang sayup.

Ia tersenyum pasrah dan tulus saat menyadari sebesar dan sekuat apa perjuangan Leona sebagai penulisnya untuk menuliskan cerita terbaik untuknya.

“Cinta menciptakan kekuatan yang luar biasa besar dan kuatnya,” gumam Alecdora.

“Kau harus memegang janjimu itu. Sekali lagi, aku akan kembali padamu,” ucap Alecdora. “Kembali pada Tuan Putri yang aku cintai.”

“Alecdora,” lirih Leona lagi. Ia ingin bangun dan menjawab semua perkataan itu.

Namun, apa daya tubuhnya yang kali ini tidak merestui, membuat Leona tidak bisa bergerak sedikit pun.

Baca Juga: Mereka yang Kau Tulis (Chapter 9)

Sesaat setelah itu, cahaya Alecdora mulai memudar bersamaan dengan sosoknya.

Ia tersenyum pada Leona untuk terakhir kalinya dalam sosok tersebut. “Aku pulang,” lirihnya. Ia pun menghilang.

Cahaya kehijauannya bersatu dengan tubuh Leona dan kembali ke dalam diri tubuh penulisnya itu.

Cahaya pun kembali menembus awan gelap yang sudah seminggu itu menutupi kota. Leona tersenyum tipis dan merasa lega.

“Selamat datang kembali, Alecdora,” lirihnya.

Baca Juga: Mereka yang Kau Tulis (Chapter 11)

Leona menyandarkan dirinya pada William, mengingat tubuhnya masih sangat lemah karena dadanya yang sesak.
William pun mendekap Leona semakin dekat.

“Ibunda, lihatlah betapa hebatnya putrimu menangani masalah besar ini,” lirih Leo dari kejauhan.

“Dia sudah sangat dewasa sekarang. Kita tidak lagi perlu takut untuk melepasnya.”

Leo menengadah. “Kau bisa beristirahat dengan tenang sekarang, Ibunda.”

Bersambung..***

Editor: Brilliant Awal


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah