Andi Arief Beberkan Rahasia Moeldoko: Beliau Tidak Tertarik Ideologisasi dalam TNI

- 9 Maret 2021, 12:25 WIB
Andi Arief
Andi Arief /Twitter.com/@andiarief_
GALAJABAR - Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrat, Andi Arief menyatakan para elite politik seperti Edy Sudrajat, Sutiyoso, Wiranto, SBY, Haris Sudarno, Luhut, dan Hendropriyono menjadi saksi para jenderal merasakan peralihan masa diktator Orba ke demokrasi dengan pembangunan partai saat era multipartai jadi pilihan.
 
Andi juga mengatakan bahwa itulah jalan mereka yang menjadi adaptif akan situasi politik di negeri ini.
 
"Ideologisasi TNI yang dominan nasionalis dan keinginan kuat keluar dari kanalisasi wadah jalur A yang menopang kekuatan Golkar 32 th dorong lahirnya partai yang dibangun sendiri. Di antara para jenderal ini miliki pemahaman dan kesimpuan berbeda tentang masa depan Indonesia," cuit Andi dalam Twitternya @AndiArief_ID sebagaimana dikutip Galajabar, 9 Maret 2021.
 
 
Andi juga menambahkan  bahwa TNI berada dalam posisi yang tepat untuk masyarakat. 
 
"TNI selalu berada dalam posisi yang tepat bersama rakyat. Hilangnya doktrin dwi fungsi ABRI dan tuntutan Tentara melindungi masyarakat dan menjaga negara mengubah wajah TNI drastis," tambahnya.
 
Dikatakan tuntutan TNI tak berpolitik diikuti dengan lahirnya figur TNI yang popularitasnya tak sekuat era Orba.
 
 
Andi juga menyebutkan itu menjadi takdir yang tepat. Selama 15 tahun terakhir lahir dua generasi berbeda jalan, populisme Jenderal Gatot Nurmantyo tak terduga lahir dari pangkat mayor AHY.
 
"Jendral Gatot bahkan jadi figur populisme yang percaya people power di latin Amerika," ujar Andi.
 
Selanjutnya Andi juga menyinggung Moeldoko dalam cuitannya tersebut.
 
 
"Bagaimana Pak Moeldoko? Beliau figur TNI yang tidak begitu tertarik dengan ideologisasi dalam TNI. Posisinya selalu beruntung dalam TNI dan KSP, membuat beruntung dalam penumpukan kapital karena membangun koneksi dengan dunia bisnis cukup baik," tambahnya.
 
Posisi Moeldoko pernah menjadi panglima dan KSP yang dekat dengan kekuasaan pasti terbangun hasrat berkuasa.
 
Namun, kedekatan dengan dunia kapital melahirkan paradigma bahwa kendaraan dan jalan politik bisa didapat dengan transaksional dan senyap meski ketahuan.
 
 
"Tak heran kalau take over Partai Demokrat dan isu tak sedap membeli pemilik suara Demokrat hitung-hitungannya transaksional gunakan struktur pengaruh karena mantan anak buahnya cukup banyak. Bukan Marzuki Ali, Joni Allen apalagi Darmijal pintu masuk upaya take over Demokrat," tutup Andi Arief. (Penulis: Annisa Nur Fadillah)***
 
 
 

Editor: Noval Anwari Faiz

Sumber: Twitter @AndiArief_ID


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah