Benang Merah (Chapter 9)

- 18 Januari 2021, 08:28 WIB
ilustrasi benang merah
ilustrasi benang merah /Myriams-Fotos/Pixabay

GALAJABAR - Pada chapter sebelumnya dikisahkan, baru saja bertemu dengan Nizar dan membuat sedikit keributan sepulang kerja di stadion, Erwin kembali dipertemukan dengan Nizar beberapa jam setelahnya.

Saat bertemu pun suasananya sangat kacau melihat bagaimana Nia mengungkapkan segala kemuakannya pada Nizar. Beruntung, Erwin datang untuk membantu Nia.

Nia yang sudah sadar dengan semua kata ‘benang merah’ yang pernah teman-temannya katakan pun akhirnya memutuskan untuk melepas benang yang tidak akan pernah tersambung itu.

Simak cerita bersambung karya Sadrina Suhendra selanjutnya.

Baca Juga: Ajax vs Feyenoord, Gol Tunggal Ryan Gravenberch Bawa Tuan Rumah Menangi Derbi De Klassieker

“Kita udahan aja, Nizar,” pinta Nia.

“Nia, kamu serius?” tanya Nizar dengan serius.

Nia mengepalkan tangannya kuat-kuat, berusaha untuk menahan tangisnya. “Habisnya!” Baik itu Erwin atau Nizar, keduanya langsung tersentak saat melihat Nia menangis.

“Habisnya, kalau kamu teguh sama keputusan hubungan kita, semua kakakku gak akan pernah ngerestuin kita. Mereka tahu itu bakal nyiksa aku!”

Hening seketika. Dalam diam Erwin menyeringai penuh kemenangan. Angin malam kota berhembus, seakan meminta salah satu dari mereka untuk pergi. Nizar berbalik untuk pergi.

“Oke,” lirihnya cukup terdengar oleh Erwin dan Nia. “Kalau gitu, bahagia terus deh!”

Erwin dan Nia kembali ditinggal berdua dalam kesedihan. Setelah punggung Nizar menghilang di balik belokan pertigaan, Erwin menatap Nia.

“Oh, laki-laki gak tau nilai perempuannya udah ila- Eh?!” Erwin terkejut.
Air mata sudah deras mengalir ke pipi Nia, tapi suara isakannya memang baru terdengar. Itu yang membuat Erwin terkejut.

Baca Juga: Ditanya Soal Agama, Ini Dia Wujud Kesempurnaan Rendah Hati Nabi Saw

“Apa aku berlebihan saat menyulut ‘tuh laki-laki?” tanya Erwin dalam hati. “Nia-“

DAP! Waktu terasa terhenti saat Nia melingkarkan tangannya pada Erwin.

Ia merasa kemeja setelannya mulai basah karena air mata, tapi ia tidak mempermasalahkan hal itu.

“Aku gak tahan sama dia. Kenapa aku terus diperlakukan kayak babu sama dia?”

Nia mengeluarkan keresahannya. “Sejak kita niat buat makin serius ke tahap berikutnya dia malah jadi kayak gitu. Apalagi soal ngebagi dua biaya hidup, gak mungkin.”

“Gimana kita bisa ngebangun keluarga kayak gitu?”

“Hm, kayak anak SMA aja. Nangis setelah putus kayak gitu,” celoteh Erwin, mengejek dengan maksud menghibur.

Tapi setelah ia mendengar tangisannya semakin keras, Erwin berhenti.

“Udahan, orangnya udah pergi. Harusnya orang seusia kita udah paham kalau yang kayak gitu gak baik. Berarti tadi itu keputusan yang bener.”

“Nia,” panggil Erwin.

“Aku tuh gak pernah habis pikir, apa dia udah gak sayang lagi sama aku? Gimana kalau dia sengaja lebih seius buat cari aman?”

“Dia tahu kalau sesuatunya bakal susah kalau belum punya pasangan. Apalagi kalau pekerjaannya cukup gede kayak jadi dosen,” keluh Nia lagi soal kekhawatirannya.

Baca Juga: Inter vs Juventus, Nerazzurri Menangi Derby d'Italia Lewat Gol Arturo Vidal dan Nicolo Barella

Erwin menarik dirinya dari pelukan Nia. “Kalau gitu, udah,” pinta Erwin. “Bahaya kalau ada yang sampai salah paham.”

Nia terdiam untuk beberapa saat. Ia memalingkan wajahnya, menghindari tatapan dingin dari Erwin. Sementara itu, Erwin bersandar pada salah satu tihang yang ada di dekatnya.

“Ya, kalau urusannya serius kayak gitu sih gak bisa dijadiin bahan main-main,” gumam Erwin. Pandangannya menatap kosong ke depan.

“Kamu denger semuanya, ‘kan?” tanya Nia dengan yang sedikit sumbang setelah menangis. “Terus aku harus apa?”

“Oh, iya,” celoteh Erwin. “Aku sih bakal nyari perempuan yang nurut sama apa yang aku perintahin, cantik, berbakat, sabar, sama gak minta imbalan apa-apa,” tutur Erwin, membuat Nia tersentak.

“Jelas aku lebih milih perempuan yang gak akan komplen soal tugas ibu rumah tangga yang kelewat banyak banget.”

“Oh, gitu?! Cari sana!” kesabaran Nia mulai habis dan menganggap Erwin sama saja.

Baca Juga: Man City vs Crystal Palace, The Citizen Sikut Liverpool ke Peringkat Ketiga Usai Pesta Gol di Etihad

“Lagian, kenapa juga sama laporan dan uang yag sering kamu transfer ke aku?! Aku yakin itu bukan sekedar peduli ke temen atau semacamnya.” Nia mengangkat tangannya. “Terus itu apa-apaan?!”

TAP! Erwin menahan tangan Nia sebelum mendarat di pipinya. Ia menyeringai penuh kemenangan. Apa yang sempat Bunda Maya katakan benar.

Nia akan bertanya soal kepastian padanya. “Akhirnya nanya juga kamu,… Nia.”
Air mata kembali meluncur bebas ke pipi Nia. Ia tidak tahu apa itu karena ia bahagia atau perasaan lainnya.

Tapi yang jelas, ia tahu bahwa sifat dingin dan tak peduli sekitar Erwin sangat berbanding terbalik dengan caranya menenangkan seorang perempuan.

Ia bisa menjadi tipikal suami yang diidamkan banyak orang.

Baca Juga: Benang Merah (Chapter 1)

“Kenapa kamu tuh selalu ngasih afeksi ngedadak?” keluh Nia yang sebenarnya menyukai hal itu. “Kamu tahu aku gak biasa sama afeksi kayak gitu. Aku ‘kan jadi kagetan sama takut.”

“Udah, udah,” Erwin mengusap air mata Nia dan mengusap puncak kepalanya, seperti yang pernah ia lakukan saat pertama kali Nia merasakan afeksi yang berbeda tersebut.

“Jahat banget, sih!” gerutu Nia di tengah isakannya.

“Hm, aku bisa denger, loh!”

Malam itu, bintang-bintang menyadarkan dirinya bahwa menyambung benang merah jauh lebih sulit dan serius dari yang penah ia bayangkan saat menemukan cinta pertamanya.

Baca Juga: Benang Merah (Chapter 2)

Dan Erwin adalah orang yang menyadarkan Nia akan hal itu. Bersambung...**

Editor: Brilliant Awal


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah