Benang Merah (Chapter 11/Tamat)

- 20 Januari 2021, 08:07 WIB
ilustrasi benang merah
ilustrasi benang merah /Myriams-Fotos/Pixabay



GALAJABAR - Pada chapter sebelumnya, Erwin menjawab dan menjelaskan tentang semua perlakuannya pada Nia.

Ia juga menjanjikan sesuatu yang awalnya Nia ragukan. Dengan janji tersebut, akhirnya Erwin dan Nia bisa melepas kekakuan senyum mereka dan tertawa.

Dengan janji itu pula, dua benang merah pada kelingking dua insan Tuhan berhasil tersambung dan terikat kuat.

Ikuti cerita bersambung karya Sadrina Suhendra selanjutnya.

Beberapa minggu kemudian…

“Nia dan… Erwin?!” kaget Nina. “Aku kira kamu bakal nikah sama Nizar!”

Hal ini mungkin terjadi tidak hanya pada Nina, tapi pada semua orang yang menerima undangan pernikahan Nia dan Erwin. Mereka tidak percaya karena Nia sudah bersama Nizar cukup lama.

Baca Juga: Benang Merah (Chapter 1)

Mereka malah dibuat terkejut dengan nama undangan yang tidak sesuai itu.

“Mungkin, Tuhan lebih ngerestuinnya hubungan aku sama Erwin,” tambah Nia yang menjelaskan.

Sementara itu, Andi dan Jeni bersorak karena pasangan favoritnya akhirnya bisa sepenuhnya berlayar.

Atau mungkin, mereka berdualah yang paling bersemangat soal pernikahan ini, melebihi dua calon pengantin tersebut.

Beberapa bulan kemudian….

Cincin perak yang Nia kenakan di jari manisnya memantulkan cahaya mentari pagi.

Baca Juga: Benang Merah (Chapter 2)

Di saat yang bersamaan, ia menyusun piring sarapan untuknya dan untuk Erwin tentunya yang kini sudah sah menjadi pasangan hidupnya.

Nia terduduk di hadapan Erwin. Ia menuangkan gula pada tehnya yang baru saja akan ia minum. “Aku kayaknya hari ini bakal ketemu dosen pembimbingkuku,” ucap Nia yang membuang pandangan sambil mengaduk tehnya.

Erwin yang selesai membaca korannya pun langsung melipat lembaran kertas tersebut dan menaruhnya. Ia mengangkat cangkir kopinya.

“Nia, aku gak mau ngingetin ini, tapi coba bilang aja,” pinta Erwin yang kemudian meneguk kopinya tersebut sebelum maniknya menatap Nia tajam. “Skripsimu… udah sampai mana?”

Seketika itu, Nia langsung menjatuhkan dirinya ke atas meja. Ia memijat pelipisnya pelan. “Masih di awal bab satu,” runtuk Nia.

Malamnya…

Baca Juga: Benang Merah (Chapter 3)

“Maaf, ya?”

“Eh?” Erwin yang masih di kantor karena harus lembur pun bingung dengan Nia yang tiba-tiba meminta maaf.

Erwin mengaktifkan mode pengeras suara setelah melihat ada kontak masuk ke emailnya. Terlebih, kantor memang sudah sangat sepi.

Sementara di sisi lain, di hadapan sebuah komputer, Nia memijat keningnya lagi. Ia seperti ingin menangis.

“Aku ini emang orang jahat. Padahal kamu lagi lembur dan dapet tugas tambahan, tapi aku malah nambah beban kami.”

“Gak usah minta maaf,” pungkas Erwin. Ia menggerakan tetikusnya dengan cekatan. Matanya menatap monitor komputer dan membaca kontak masuk yang ternyata dari Nia.

Baca Juga: Benang Merah (Chapter 4)

“Akunya ‘kan gak keberatan. Buat sekarang, emang kamu yang paling terpuruk di sini, ‘kan?”

Tangan Nia bergelut hebat dengan tombol keyboardnya. Erwin paham dengan mood-swing yang sedang menyerang Nia dan batasan waktu pengumpulan yang menghantuinya.

Apalagi dengan perutnya yang mulai terlihat membuncit karena ada jantung baru yang berdetak di dalam perutnya itu.

“Sub-bab satu sama dua gak ada masalah, aku bakal edit yang setelahnya. Oh iya, jangan lupa benerin yang paragraph delapan di halaman enam dan kalau bisa tambahin tabel lagi. Tapi kalau buat tabel, bisa sama aku aja, sih.”

Erwin memungkas langsung isi dari permasalahan yang Nia kirim.

Ya, Nia baru saja mengirim skripsi yang sudah diberi masukan oleh dosen pembimbingnya.

Ia hanya memiliki waktu hingga esok pagi untuk mengumpulkannya. Nia merutuki nasib mahasiswa tahap akhirnya itu.

Baca Juga: Benang Merah (Chapter 5)

“Erwin, tolong, lah!” jengkel Nia yang kelepasan. “Mentang-mentang karyawan teladan yang cuman mikirin kerja, kamu jadi teliti banget kayak gini!”

“Gak ada hubungannya,” gumam Erwin yang ikut menunda pekerjaannya untuk mengedit apa yang harus istrinya kumpulkan.

“Ada, lah!” gerutu Nia.

“Nah, ‘kan? Muncul lagi mood-swingnya,” goda Erwin dengan anda dinginnya.

“Diem, deh!” kesal Nia.

“Hm, jangan tidur kemaleman. Kagak baik buat yang di perut,” Erwin mengingatkan.

“Pengen kerang asam manis.”

Erwin terdiam sejenak. “Kenapa belok ke makanan?!”

“Pengen,” pinta Nia lagi.

Baca Juga: Benang Merah (Chapter 6)

“Kemarin ‘kan udah,” sergap Erwin. Tapi ia menghela napasnya dan berkata, “ya udah, tapi kerangnya buat sarapan aja, ya?”

“Yey!” girang Nia. “Makasih,” tidak lupa ia berterima kasih dengan suara manisnya.

“Dasar ibu hamil!” canda Erwin. “Sekarang kerjain lagi tuh yang aku kirim,” tunjuk Erwin yang baru mengirim editannya. Erwin meneguk kopinya yang mulai mendingin.

Nia menggerutu kesal, “Erwin!”

Erwin hanya tersenyum dalam diam. Tentang benang merah yang pernah ia bicarakan, kini ia benar-benar bisa merasakan kehebatan cinta dari dua benang merah yang terhubung dengan pas.

Dan itulah yang dinamakan berjodoh.

Mau berapa lama pun, seberapa jauh pun, dan seasing apapun, tali itu akan tetap membawamu ke orang yang semestinya.(Tamat)**

Editor: Brilliant Awal


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah