Benang Merah: Harapan dan Keistimewaan (Chapter 22)

- 12 Maret 2021, 15:09 WIB
ilustrasi benang merah
ilustrasi benang merah /Myriams-Fotos/Pixabay

“Kamu serius?” suara Felix terdengar. Bagi Ruby, suara Felix hanya terdengar semakin menyakitkan di telinganya.
“Iya, aku serius!” jawab Rose.
“Gitu, ya?”
Sesaat setelah Ruby mendengar suara Felix lagi, ia tidak bisa menahannya. Ia pun berlari untuk meninggalkan tempat itu. Namun, ia malah menabrak Han dan Helena yang kebetulan baru kembali dari kelas yang mereka hadiri.

“Ruby?” bingung Helena.

“Kamu nangis?” tanya Han, berusaha untuk melihat wajah Ruby.

Ruby segera menggelengkan kepalanya dan tersenyum, memberitahu kedua temannya bahwa ia tidak apa. Jelas keduanya tahu itu hanya kebohongan.

Baca Juga: Polemik KLB Demokrat, Jansen Sitindaon Kaitkan KLB dengan DPT Pemilu: Jadi Tidak Mungkin Sah

“Kalian, kalau Felix nyari, tolong bilang aku ke bandara, ok?” pinta Ruby.

“Bandara? Buat- Ruby!” sebelum Han bisa bertanya, Ruby segera melarikan diri entah kemana. Ia mengusap air matanya. “Kenapa? Kenapa?!” umpatnya dalam hati.

Sementara itu di sisi lain, Felix dan Rose melanjutkan kegiatan saling tatapnya, membiarkan Rose menyelesaikan kegiatan menyatakan cintanya.

“Gitu, ya?” tanya Felix pada Rose. “Kamu lebih berani dari yang aku kira ternyata,” gumam Felix lagi.

“I-iyakah?” Rose malah balik bertanya.

Halaman:

Editor: Noval Anwari Faiz


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah