Benang Merah: Harapan dan Keistimewaan (Chapter 22)

- 12 Maret 2021, 15:09 WIB
ilustrasi benang merah
ilustrasi benang merah /Myriams-Fotos/Pixabay

“Hm, jujur aja aku kaget,” jawab Felix. “Aku harus bilang makasih.”

Baca Juga: Bocoran dan Sinopsis Serial Drama Kisah Untuk Geri, Hari Ini Pukul 18.00 WIB

“Eh?” Rose mendongak, menatap Felix.

“Tapi, aku mau nanya sesuatu.”

“Felix-”

“Apa kamu siap buat nanganin sifat aku yang kayak gini?” tanya Felix sebelum Rose menyelesaikan kalimatnya.
Rose langsung terdiam. “Aku ini dingin, tukang ngomel, sering ngebentak sana-sini, atau bahkan aku gak akan ngalah sama perempuan. Sesekali aku bakal bikin perempuan gak berkutit di depanku. Aku bukan tipikal laki-laki yang bakal lembut sama perempuan,” jelas Felix.
Hati Rose langsung terasa sesak. Ia tidak tahu bagaimana menjawabnya. Matanya pun mulai berkaca-kaca.
“Jangan nangis sekarang! Kamu sendiri yang mau bilang semua ini sama aku. Harusnya kamu siap sama semua resiko ini,” Felix membiarkan semua kalimat kasar keluar dari mulutnya pada Rose, memastikan apa Rose siap dengan sifatnya itu. “Apa kamu siap? Apa ‘mental’ kamu siap?” Felix bahkan menekankan pertanyaannya itu.

Baca Juga: Periksa 3 Penembak 4 Laskar FPI Dalam Kasus Unlawfull Killing, Polri: Mereka Dibebastugaskan

Tapi, semua pertanyaan itu langsung terhenti oleh gebrakan pintu ruang klub. Rose langsung menyembunyikan wajahnya. Kini, Han tahu apa yang membuat Ruby menangis.

“Woy, Felix!” panggil Han dengan sedikit kasar. Tanpa basa-basi, Han langsung memukul Felix sedikit lebih kuat.
“Han, apaan sih?!” bingung Felix yang sudah berada di ambang amarah.

“Itu buat Ruby!” tegas Han.

Halaman:

Editor: Noval Anwari Faiz


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah