Benang Merah: Harapan dan Keistimewaan (Chapter 22)

- 12 Maret 2021, 15:09 WIB
ilustrasi benang merah
ilustrasi benang merah /Myriams-Fotos/Pixabay

Seketika itu, amarah berbasuh oleh rasa khawatir. Felix membulatkan manik berliannya. Rahangnya langsung mengerat kuat. “Dia denger semuanya?” tanya Felix.

Ekspresi Rose berubah karena tidak percaya. “Padahal hanya sahabat,” pikir Rose. “Tapi…”
“Ada kemungkinan gak. Dia langsung pergi pas lihat kamu sama Rose,” jelas Helena.
“Kemana dia?” tanya Felix.
“Bandara.”

Baca Juga: Polemik Kasus Kerumunan, Habib Rizieq Shihab Diancam 10 Tahun Penjara, Refly Harun: Tapi Itu Kan Hipotetis

Jawaban yang Han lontarkan mampu membuat Felix terkejut dan panik. Ia baru ingat perkataan Ruby dua minggu lalu. “Apa jadinya kalau aku ninggalin kamu?” pertanyaan Ruby itu langsung terlintas di kepalanya. Felix pun segera menyambar kunci mobilnya dan pergi.

“Felix, tunggu!” teriak Rose. Namun, Felix tidak mendengarnya.

“Sial! Sial! Sial!” gerutu Felix selama perjalanan. “Kenapa aku bisa gak sadar?!”

Kembali ke ruang klub, Han dan Helena kembali melakukan pekerjaan masing-masing, meninggalkan Rose berdiri sendirian.

Baca Juga: Anggota DPRD Jabar Bakal Divaksin Covid-19 Pekan Depan

“Rose, harusnya kamu sadar sama posisi Ruby dan Felix,” Han mengingatkan seraya kembali bekerja. Nadanya memang terdengar halus, namun itu justru malah menyakiti hati Rose.

“T-tapi, mereka bilang mereka cuman sahabat,” jujur Rose pelan.

Halaman:

Editor: Noval Anwari Faiz


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah