Jhoni Allen - Damrizal 'Berdosa', Marzuki Alie Bongkar Skenario SBY Ambil Alih Demokrat jadi Partai Dinasti

- 18 Maret 2021, 14:16 WIB
Ketua Dewan Pembina PD versi KLB, Marzuki Alie. saat memberi pesan kepada seluruh masyarakat Indonesia soal kisruh Demokrat di tayangan video kanal YouTube Refly Harun pada Senin, 15 Maret 2021. /YouTube Refly Harun
Ketua Dewan Pembina PD versi KLB, Marzuki Alie. saat memberi pesan kepada seluruh masyarakat Indonesia soal kisruh Demokrat di tayangan video kanal YouTube Refly Harun pada Senin, 15 Maret 2021. /YouTube Refly Harun /


GALAJABAR - Mantan Sekretaris Umum Partai Demokrat yang kini menjabat Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang, Marzuki Alie membeberkan skenario politik Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengambil alih Partai Demokrat menjadi partai dinasti.

Melalui tayangan pada saluran YouTube pribadinya, Bang MA Official, pada Rabu, 17 Maret 2021, Marzuki Alie mengatakan bahwa secara sistemik, SBY merebut Partai Demokrat yang semula terbuka menjadi partai dinasti keluarga Cikeas.

"Sistemik pengambilalihan partai politik, Partai Demokrat dari partai terbuka menjadi partai dinasti, saya akan jelaskan dalam tayangan berikut ini," ujar Marzuki.

Baca Juga: Akui Diseret ke KLB Partai Demokrat, Marzuki Alie: Sebenarnya Saya Sudah Bosan dengan Dunia Politik

Ia mengungkapkan bahwa berawal dari kongres 2010 di mana dirinya dan Anas Urbaningrum dilarang untuk maju sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Saat itu SBY mengusung orang kepercayaannya namun kalah.

"Pertama pada kongres 2010. Pada kongres 2010, awalnya kami dilarang untuk maju, saya dilarang, Mas Anas dilarang, sayangnya yang direkomendasi itu orang yang sehari-hari dekat beliau," ujar Marzuki.

Ia menjelaskan bahwa orang ini merupakan sosok dari partai lain yang masuk ke Partai Demokrat dan menjadi orang kepercayaan SBY.

Baca Juga: Jangan Lupa! Bansos Rp 300.000 Bulan Maret 2021 Sudah Cair, Yuk Cek Melalui dtks.kemensos.go.id

"Alhamdulillah, partai ini tidak jatuh kepada orang yang tidak tepat," ujarnya lagi.

Dengan demikian, pada kongres 2010, Anas Urbaningrumlah yang terpilih sebagai ketua umum.

Namun, ia menyesalkan terkait sandungan kasus yang menimpa Anas Urbaningrum.

Lebih lanjut, karena Anas Urbaningrum tersandung kasus korupsi saat itu, maka dilakukanlah Kongres Luar Biasa pada 2013.

Pada kongres 2013, Marzuki mengaku dirinya akan maju sebagai ketua umum, namun SBY ternyata juga akan maju.

"Ternyata Pak SBY ingin menjadi ketua umum. Caranya bagaimana? Sederhana, bagaimana Marzuki Alie tidak maju dan bagaimana caranya pengikut Anas juga memberikan dukungan kepada beliau," jelasnya.

Baca Juga: Jokowi Tak Berniat 3 Periode, Haris Azhar: Statement Jokowi Kadang Beda Seperti Cuaca, Berubah-ubah

Akhirnya pada 2013, SBY meyakinkan bahwa ia hanya akan bertahan hingga kongres berikutnya.

"KLB 2013 itu, orang-orang saya diyakinkan bahwa Pak SBY hanya bertahan selama dua tahun saja, artinya menyelamatkan partai ini sampai kongres berikutnya," ujar dia.

Namun, Marzuki Alie menduga bahwa sejak saat itulah terpikir bahwa Partai Demokrat akan dijadikan partai keluarga Cikeas.

"Itu sudah saya pikirkan sejak awal, itu terjadi pada kongres 2015, di mana SBY mengingkari janjinya untuk tidak maju lagi," tegas Marzuki.

Baca Juga: Teddy Gusnaidi Unggah Foto Rumah DP 0 persen: Cuma Buat Satu Orang dan Satu Kecoa?

Ia menjelaskan bahwa menjelang kongres 2015, SBY menggalang dukungan ke daerah-daerah agar ia dipilih.

"Saya sudah ingatkan kepada teman-teman pada saat itu, saya sampaikan; begitu Pak SBY menjadi ketua umum periode 2015-2020 maka jangan diharapkan lagi partai ini menjadi partai terbuka," ujarnya.

Marzuki menjelaskan bahwa pesan itu juga ia sampaikan kepada Damrizal dan Jhoni Allen yang saat itu mendukung SBY pada KLB 2013. Bahkan ia menyebut Damrizal dan Jhoni Allen sudah berdosa karena memengaruhi dirinya untuk sama-sama mendukung.

"Itulah yang saya sampaikan kepada Pak Damrizal yang saat itu mengusung Pak SBY di KLB, termasuk Pak Jhoni Allen," katanya.

Baca Juga: Teddy Gusnaidi Unggah Foto Rumah DP 0 persen: Cuma Buat Satu Orang dan Satu Kecoa?

"Saya bilang orang-orang ini orang-orang yang berdosa. Karena apa? Memengaruhi saya," tambahnya.

Dan benar saja, sejak itu kata Marzuki, sejak 2015 SBY ingkar janji dan mengambil Partai Demokrat.

Selanjutnya, kata Marzuki, terpilihnya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjadi ketua umum pada Kongres 2020, kendati dipilih secara aklamasi, tetapi by design atau dengan skenario tertentu.

Baca Juga: Bukan Jokowi Tiga Periode, Refly Harun dan Haris Azhar Ungkap Solusi Ini Lebih Penting bagi Politik Indonesia

"Pak AHY terpilih secara aklamasi, betul secara aklamasi, tetapi by design," tegasnya.

Marzuki menyebut bahwa sebelum AHY terpilih, telah diminta surat dukungan.

"Bagaimana orang lain mau masuk, manakala Pak AHY sudah mendapat dukungan 100 persen, itulah by design," ucapnya.

"Artinya partai ini telah dikonotasi menjadi parta keluarga," jelasnya.

Ia mengungkapkan bahwa desain Partai Demokrat menjadi partai dinasti lebih lanjut diatur melalui pasal-pasal pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).

Baca Juga: Terciduk Curi Besi Hingga Kursi TransJakarta, Polisi Berhasil Bekuk Pelaku di Lapangan Parkir Bus

"Caranya dengan mengubah pasal-pasal dalam AD/ART tentang kewenangan ketua majelis tinggi dan ketua umum," terang dia.

Marzuki menyoroti soal sentralisasi kekuasaan yang terletak pada SBY, AHY dan bahkan Edhie Baskoro Yudhoyono yang diatur dalam pasal-pasal AD/ART.

"Ketua Majelis Tinggi Masa bakti 2020 - 2025 dijabat oleh Ketua Umum masa bakti 2015 - 2020 adalah aneh," kata Marzuki.

Dengan demikian, AD/ART tersebut menjadikan SBY secara otomatis menjadi Ketua Majelis Tinggi.

Baca Juga: Renungan Hadis Hari Ini: Jangan Marah

Kemudian, Wakil Ketua Majelis Tinggi dijabat oleh Ketua Umum dimana saat itu adalah AHY

"Yang paling krusial adalah membatasi hak daripada kader, saya yakin banyak kader memiliki kapasitas untuk menjadi ketua umum partai tetapi sudah di cut oleh pasal dalam AD dimana calon Ketua Umum yang maju dalam kongres harus mendapat persetujuan Majelis Tinggi partai," ujarnya.

Hal itu menandakan kata Marzuki, tidak akan ada yang dapat berkompetisi tanpa persetujuan Ketua Majelis Tinggi Partai.

"Ini yang membuat partai ini sudah sedemikian ketatnya didalam AD/ART sehingga tidak memungkinkan orang luar untuk memimpin partai ini," ujarnya.

Baca Juga: Sinopsis Buku Harian Seorang Istri 18 Maret 2021: Cinta Segita Antara Nana, Dewa dan Alya

"Artinya partai ini direkayasa, didesain sedemikian rupa, sehingga tidak mungkin lagi orang luar menjadi pengelola Partai Demokrat," tandasnya. (Penulis: Rizwan Suandi)***

Editor: Noval Anwari Faiz

Sumber: YouTube Bang MA Official


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah