Datang dari AS Hanya Buat Kisruh Impor Beras, Syahrial Nasution: Siapa yang Untung?

- 22 Maret 2021, 09:57 WIB
Budayawan Sudjiwo Tedjo bicara soal impor beras dan menyinggung keberadaan The Godfather.*
Budayawan Sudjiwo Tedjo bicara soal impor beras dan menyinggung keberadaan The Godfather.* /ANTARA/Reno Esnir

GALAJABAR – Deputi Balitbang DPP Partai Demokrat, Syahrial Nasution mengaku geram dengan adanya kebijakan impor beras dan garam.
Menurutnya, kebijakan impor tersebut dapat menyebabkan adanya margin atau jarak keuntungan antara beras lokal dengan beras impor.
Masyarakat Indonesia akan cenderung memilih beras impor karena harganya yang relatif lebih murah daripada beras lokal.
Tentunya, kebijakan tersebut tidak menguntungkan bagi para petani melainkan semata-mata hanya menguntungkan pedagang beras impor.
Oleh karena itu, Syahrial mengaku kecewa dengan apa yang telah dilakukan Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Lutfi atas kebijakan tersebut.

Baca Juga: Soal Revisi UU ITE, Hasil Survei Nyatakan 57,3 Persen Anak Muda Setuju
Apalagi sebelum menjabat sebagai Mendag, Lutfi pernah menjadi Duta Besar (Dubes) Indonesia unruk Amerika Serikat (AS) sehingga kontribusinya sangat dinantikan oleh masyarakat Indonesia.
“Sebagai kawan lama, saya agak kecewa Pak Lutfi @MendagLutfi jauh-jauh dipanggil pulang dari AS dengan melepas jabatan Dubes, justru membuat kisruh soal impor beras dan garam. Apapun ceritanya, kegiatan impor akan menghasilkan margin keuntungan. Siapa yg untung? Pedagang,” tulis Syahrial Nasution yang dikutip Galajabar dari akun Twitter pribadinya, @syahrial_nst, 22 Maret 2021.
Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso atau yang akrab disapa Buwas mengungkapkan bahwa tahun 2021 Indonesia tak akan lagi mengimpor beras karena masih banyak beras impor yang belum terpakai.

Baca Juga: Anies Tertinggi Survei Presiden, Komisaris Ancol Sentil Kepanikan Kakak Pembina dan Uang Pulsa
Berdasarkan data dari Perum Bulog, stok beras impor dari pengadaan tahun 2018 sebanyak 1.785.450 ton beras, masih tersisa 275.811 ton beras yang belum tersalurkan.
Mirisnya, 106.642 ton di antaranya merupakan beras yang sudah turun mutu. Menurut Buwas, beras yang sudah turun mutu dapat diatasi dengan cara mencampurkannya dengan beras dalam negeri.
Namun, cara tersebut memerlukan waktu yang lebih panjang. Jadi, distribusi ke masyarakat pun menjadi semakin lambat. Selain itu, beras impor juga kurang disukai masyarakat adalah rasanya yang kurang cocok di lidah orang Indonesia.
Oleh karena itu, Buwas meminta kepada pemerintah khususnya Mendag Lutfi untuk segera membatalkan rencana impor 1 juta ton beras. ***

 

Editor: Digdo Moedji


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah