Survei FKM UI: 91,9 Persen Kasus Covid-19 di Jakarta Ternyata Tidak Terdeteksi

- 14 Juli 2021, 10:29 WIB
Ilustrasi Covid-19. Kasus kematian Covid-19 di Kabupaten Garut masih tinggi di awal Juli 2021
Ilustrasi Covid-19. Kasus kematian Covid-19 di Kabupaten Garut masih tinggi di awal Juli 2021 /Pixabay

GALAJABAR - Sebanyak 91,9 persen kasus Covid-19 di Jakarta ternyata tidak terdeteksi.

Hal itu berdasarkan pada hasil survei serologi pada 15-31 Maret 2021

Survei dilaksanakan oleh tim Pandemi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Lembaga Eijkman, dan CDC Indonesia.

Epidemiolog FKM UI Pandu Riono mengatakan deteksi kasus Covid-19 masih sangat rendah.

Proporsi kasus yang terdeteksi hanya 8,1 persen sedangkan 91,9 persen tidak terdeteksi oleh sistem.

Baca Juga: 14 Juli: Adolf Hitler Melarang Partai Oposisi Hingga McDonal's Berduka

“Artinya, kalau kita melihat data sekian banyak di DKI, sebenarnya yang terjadi di populasi bisa jauh lebih banyak karena yang dilaporkan atau terdeteksi dalam sistem hanya 8,1 persen,” kata Pandu seperti dikutip Antara, Rabu 14 Juli 2021.

Survei serologi dilakukan untuk mengukur respons imun terhadap suatu antigen dari sediaan darah seseorang.

Metode survei ini dirancang untuk menggambarkan prevalensi penduduk di DKI Jakarta yang pernah terinfeksi Covid-19 atau yang antibodi SARS CoV-2-nya terdeteksi.

Menurut penelitian itu, dari yang tidak terdeteksi 57,4 persen di antaranya tidak bergejala dan 34,0 persen bergejala.

Baca Juga: Ini Dia Ciri-ciri Seseorang yang Memiliki Khodam Pendamping, Orang Awam pun Bisa Mengetahuinya

Angka ini menunjukkan jumlah pasien orang tanpa gejala (OTG) cukup tinggi dan tidak terdeteksi oleh sistem.

OTG didominasi oleh kelompok umur muda, di antaranya 70,8 persen pada usia 1-14 tahun dan 65,9 persen pada usia lebih dari atau sama dengan 1 tahun.

Sisanya, 62,6 persen pada usia 15-49 tahun dan 55,7 persen pada usia lebih dari 50 tahun.

“Ini mengindikasikan bahwa sistem testing kita di DKI walaupun sangat tinggi tetap tidak bisa mengidentifikasi atau mendeteksi sebagian mereka yang memang sudah terinfeksi,” ujar Pandu.

Survei serologi mengambil 4.919 sampel (98,4 persen) dari target sampel 5000 penduduk usia 1 tahun lebih yang tersebar di 100 kelurahan di enam wilayah administrasi DKI Jakarta.

Baca Juga: Empat Orang Tewas Akibat Sebuah Derek Runtuh di Kanada

Untuk pemeriksaan antibodi SARS CoV-2 menggunakan tes akurat yang disumbangkan oleh US CDC dengan tetracore-luminex.

Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 Brigjen TNI (Purn) dr. Alexander K. Ginting mengatakan bahwa DKI Jakarta memiliki tingkat testing yang tinggi dan melebihi apa yang diminta standar WHO, namun belum bisa mencerminkan apa yang dikatakan dalam penelitian serologi ini.

“Ada sesuatu hal yang harus kita cari bagian missing link-nya,” katanya.

Mekipun begitu, Alexander mengatakan penelitian ini bermanfaat untuk melihat kembali apakah 3T (testing, tracing, dan treatment) harus dicari dalam model yang baru.

“Hasil penelitian ini bisa dimanfaatkan untuk membangkitkan semangat bagi semua pihak, termasuk masyarakat dan pemerintah, untuk meningkatkan partisipasi dalam penerapan prosedur kesehatan serta pelaksanaan 3T,” kata Alexander.

Baca Juga: Mensos Risma Ancam Pindahkan ASN ke Papua, Kritikus: Alam Bawah Sadar Bu Risma Merendahkan Papua

Direktur Riset SMRC Deni Irvani berpendapat hasil survei serologi tidak mengonter data terkonfirmasi Covid-19 yang dirilis pemerintah.

“Justru ini adalah informasi yang sangat bermanfaat bagi pemerintah dan kita semua bahwa Covid-19 diestimasi sudah sangat menyebar di DKI Jakarta,” kata Deni.

Lanjut Deni, data pemerintah masih bisa diandalkan sementara data serologi ini berfungsi sebagai tambahan informasi untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.***

Editor: Brilliant Awal


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah