Bantah Tudingan Amerika Soal Pelanggaran HAM di PeduliLindungi, Kemenkes Beberkan Sejumlah Data dan Alasannya

- 16 April 2022, 13:20 WIB
Ilustrasi: Bantah Tudingan Amerika Soal Pelanggaran HAM di PeduliLindungi, Kemenkes Beberkan Sejumlah Data dan Alasannya
Ilustrasi: Bantah Tudingan Amerika Soal Pelanggaran HAM di PeduliLindungi, Kemenkes Beberkan Sejumlah Data dan Alasannya /Kominfo.go.id


GALAJABAR - Kementerian Kesehatan (kemenkes) tanggapi tudingan Amerika Serikat menuding adanya indikasi aplikasi pelacakan Covid-19 Indonesia PeduliLindungi yang dianggap melakukan pelanggaran HAM.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, mengatakan sejak pertama kali diluncurkan pada Maret 2020, aplikasi PeduliLindungi melalui fitur kewaspadaan telah berhasil melakukan upaya pencegahan pasien Covid-19.

Termasuk warga yang berisiko berkeliaran di tempat umum sehingga dapat menulari warga lainnya. Aplikasi ini sudah diunduh oleh lebih dari 90 juta orang dan telah membantu mencegah warga yang terinfeksi mengakses fasilitas dan tempat umum seperti pusat perbelanjaan, airport, pelabuhan, hotel, dan gedung perkantoran.

Baca Juga: Dituduh AS Lakukan Pelanggarn HAM di Aplikasi PeduliLindung DPR Tak Terima: Harusnya Amerika Belajar ke Kita

"Aplikasi PeduliLindungi yang telah diunduh pasien positif Covid-19 akan berwarna hitam ketika aplikasi tersebut dipindai di pintu masuk tempat umum sehingga petugas keamanan dapat mencegah masuk pasien tersebut, lalu melaporkan yang bersangkutan ke Satgas Covid-19 untuk ditangani lebih lanjut," kata Nadia dalam keterangannya, Sabtu, 16 April 2022.

Dikatakan, sepanjang 2021-2022, PeduliLindungi telah mencegah 3.733.067 orang dengan status merah (vaksinasi belum lengkap) memasuki ruang publik dan telah mencegah 538.659 upaya orang yang terinfeksi Covid-19 (status hitam) melakukan perjalanan domestik atau mengakses ruang publik tertutup.

"PeduliLindungi turut berkontribusi pada rendahnya penularan Covid-19 di Indonesia dibanding negara tetangga dan bahkan negara maju. Aplikasi ini memiliki peran yang besar dalam menekan laju penularan saat kita mengalami gelombang Delta dan Omicron," katanya.

Baca Juga: Pemerintah Siapkan Pos Vaksin Booster di Jalur Mudik, tapi Pemudik Jangan Tunda Vaksin Booster, Ini Sebabnya!

"Tuduhan aplikasi ini tidak berguna dan juga melanggar HAM adalah sesuatu yang tidak mendasar. Marilah kita secara seksama membaca laporan asli dari US State Department," katanya.

"Laporan tersebut tidak menuduh penggunaan aplikasi ini melanggar HAM. Kami memohon agar para pihak berhenti memelintir seolah-olah laporan tersebut menyimpulkan adanya pelanggaran," sambung Nadia.

Halaman:

Editor: Hj. Eli Siti Wasilah


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah