Benang Merah (Chapter 3)

- 12 Januari 2021, 08:19 WIB
ilustrasi benang merah
ilustrasi benang merah /Myriams-Fotos/Pixabay



GALAJABAR - Pada chapter sebelumnya, saat Jeni memperjelas gosip yang ada, di sana ada si bintang utama dari goisp tersebut yang mulai bergerak.

Dengan sifatnya yang dingin dan tak peduli sekitar, Erwin mulai maju dan mengambil sedikit tempat di hati Nia sebelum benar-benar menguasainya.

Ikuti kisah cerita bersambung karya Sadrina Suhendra selanjutnya:

Baca Juga: Pemkab Bandung Barat Siapkan TPST Alternatif Seluas 20 Hektare

Erwin dan Nia duduk bersebelahan di meja, menatap ke luar dinding jendela.

Dalam diam mereka memperhatikan orang-orang dan kendaraan yang berlalu-lalang.

Langit kota pun sudah berwarna keunguan, menandakan malam akan segera menyapa.

Nia mengusapkan tangannya pada cangkir cappucinno yang ia pesan dan Erwin memutar-mutar sedotan dari gelas es americanonya.

Ada keheningan yang malah membuat nyaman di antara mereka.

Salah satu dari mereka memang tidak ada niatan untuk membuka obrolan selain meneguk kopi yang mereka pesan.

Baca Juga: Ibu Bejat Ini Jual Anaknya ke Lelaki Hidung Belang Hanya untuk Dapatkan Uang Rp350.000

“Materi yang kamu kasih ngebantu banget. Aku jadi lebih paham dan mudah nyempeinnya,” pada akhirnya, Nia berinisiatif membuka obrolan terlebih dahulu.

“Syukurlah. Di antara reporter lain, mungkin aku satu-satunya yang paling sering ditunjuk buat presentasi. Jadi aku udah biasa,” jelas Erwin sebelum menyedot americanonya.

“Rasanya, pengen deh pindah ke cetak,” curhat Nia.

“Yang di cetak justru pada pengen turun ke lapang.”

“Serius?”

Erwin hanya mengangguk. Pandangannya masih mengarah keluar dinding transparan di hadapannya itu.

“Tapi, kamu ditempatin di dua-duanya?”

“Aku editor, sih! Jadi bisa dibilang kayak humas. Mau ditempatin dimana aja juga gak masalah. Sama-sama kerja ini,” gumam Erwin.

Ia merogah saku setelahnnya dan mengeluarkan sebungkus rokok lengkap dengan korek apinya. “’Ku boleh ngerokok?” izin Erwin.

Baca Juga: Bikin Terkejut! Harun Yahya Divonis Penjara Selama 1.075 Tahun

“Silahkan,” lirih Nia. Ia hanya menatap cangkir cappucinnonya yang tinggal setengah.

Setelah mendapat izin, Erwin menyulut api pada rokoknya itu. Kebulan asap sudah bukan masalah lagi untuk Nia.

“Dipikir-pikir, kamu tuh kayak robot, ya? Kerja lagi, kerja lagi, kerja lagi,” komen Nia. “Gak ada waktu main, kah?”

“Kalau konteksnya aku hari ini, ya aku gak punya kegiatan lain."

"Akunya belum punya tanggung jawab lebih, mau main juga udah gak keumuran, kuliah udah selesai. Kalau semua tugas selesai, ya tidur.”

“Enaknya,” gumam Nia sambil memutar jarinya pada tepi cangkir.
“Kayak gak ada beban gitu. Apa gak punya pacar?”

Tapi setelahnya, Nia tersentak dengan pertanyaan yang baru saja keluar dari mulutmya secara spontan.

Ia terus merutuki dirinya dan menganggap itu tidak sopan.

Baca Juga: Mensos Risma Dilaporkan ke Polisi oleh Warga Surabaya

“Apa masih keumuran buat pacaran?” tanya Erwin dengan santainya. Ia memainkan batangan rokok yang sedang ia nikmati.

“Lagian, mana ada perempuan yang mau sama laki-laki ampas maniak kerja kayak gini?”

“Tiara dari pengiklanan?” tanya Nia yang lagi-lagi bertanya dengan spontan.

Untungnya, Erwin bisa menjawabnya dengan tenang. Terlebih, tampang dinginnya membuat Erwin nampak tidak peduli dengan sekitarnya.

“Oh, juniorku. Aku gak tertarik pacaran juga.”

“Gak aneh,” lirih Nia yang kembali meneguk kopinya. Kalau Nia perhatikan, memang pada dasarnya Erwin lebih tua dan dewasa darinya. Ia bukan tipikal orang yang akan mengurusi masalah cinta serumit itu.

“Kalau kamu? Jeni bilang kamu punya pasangan.”

Nia tertawa miris pada dirinya sendiri. Ia menghela nafasnya.

“Begitu, lah. Gak ada yang spesial dari hubungan aku,” jujur Nia.

Baca Juga: Wendi: Pemkab Bandung Barat Harus Berjuang Pertahankan Aset Tanah Pasar Panorama

Nia sangat takut untuk menceritakan masalah percintaannya pada orang lain. Tapi di sisi lain, ia percaya dan nyaman jika harus bercerita pada Erwin.

“Aku mungkin udah cukup lama pacaran sama dia. Aku dijanjiin masa depan yang lumayan karena dia calon dosen juga. Tapi, rasanya ada yang kurang pas,” curhat Nia.

Ia akhirnya membiarkan ceritanya bocor pada Erwin. Jemarinya mengetuk pelan pada meja.

“Masak, bersih-bersih, mungkin itu udah jadi kewajiban seorang istri. Tapi,” Nia terdiam, membuat Erwin menoleh ke arahnya, memastikan sesuatu yang buruk tidak terjadi.

Nia tersenyum tipis, kembali merasa kasihan pada dirinya sendiri.
“Mungkin karena umurku yang belum siap dan merasa itu belum jadi tanggung jawabku, aku ngerasa kayak babu.”

Baca Juga: Jaksa Tuntut Pinangki Sirna Malasasi 4 Tahun Penjara!

Erwin terdiam sejenak sambil menatap Nia, membiarkan api membakar sedikit rokoknya. “Mau aku pesenin anggur non alkohol?” tanya Erwin.

“Tidak, terima kasih!” kecut Nia yang memilih untuk meneguk sisa cappucinnonya.

Erwin menghembuskan kebulan asap yang ebelumnya ia hisap. “Ya, mungkin karena kamu gak dibales sama hal yang pantes, makanya kamu ngerasa kayak gitu."

"Beda ceritanya kalau kamu udah berkeluarga. Kamu bakal nganggep itu suatu kebiasaan karena kamu tahu gimana dan bakal dapet apa.”

Nia menatap Erwin “Dari suamiku nanti?”

Erwin mengangguk.

“Gak hanya suami tapi dari anak-anak kamu nanti. Biasanya, ketika seorang wanita dapet sesuatu dari suaminya, rasa senengnya bakal ngelebihin rasa seneng ketika dapet hal itu dari status pacaran."

Baca Juga: Habib Rizieq Bersama Menantu dan Dirut RS Ummi Terancam 10 Tahun Penjara

"Kamu bakal ngerasa semua tugas kamu terbayar dengan itu.”

Nia terkekeh. “Ragu banget rasanya kamu gak pacaran.”

“Ya, aku emang gak pacaran,” pungkas Erwin.

Secangkir kopi yang Nia genggam membawa kehangatan tersendiri. Tapi di sisi lain, ada hal lain yang membuatnya hangat saat itu.
Perbincangan hangat di antara tegukan kopinya dengan Erwin menjadi cerita lain di malam tersebut. (bersambung)***

Editor: Brilliant Awal


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah