Benang Merah (Chapter 4)

- 13 Januari 2021, 08:05 WIB
ilustrasi benang merah
ilustrasi benang merah /Myriams-Fotos/Pixabay



GALAJABAR - Pada chapter sebelumnya, secangkir cappucinno dan segelas americano menemani keheningan hangat yang terasa oleh Nia dan Erwin malam itu.

Meski Nia takut untuk menceritakan masalah percintaannya pada orang lain, Erwin membuatnya bercerita tanpa sadar, meyakinkan Nia bahwa ia bisa selalu percaya pada Erwin.

Ikuti kisah cerita bersambungnya karya Sadrina Suhendra

“Ragu banget rasanya kamu gak pacaran.”

“Ya, aku emang gak pacaran.”

Nia kembali menghela napasnya. “Tapi yang kamu bilang itu bisa jadi, sih!”

“Besok kuliah pagi?” tanya Erwin yang membelokan topik pembicaraan.
Ia merasa topik pembicaraannya akan semakin tak terkendali.

Mengingat, kopinya saja sudah hampir habis.

“Hm. Aku bakal ke lapang pas jam istirahat kerja. Pertandingannya sore, kan?”

Baca Juga: Komisi III DPR Hilangkan Tradisi Kunjungan ke Rumah Calon Kapolri, Ini Dia Alasannya

“Berangkatnya?”

“‘Kan ada banyak angkutan umum.”

“Oh.” Erwin tidak berniat untuk melanjutkan pertanyaannya. Ia tidak ingin memaki pasangan Nia yang ia kira tidak bertanggung jawab.
“Soal uang yang mau kamu bahas pas istirahat tadi siang, iya itu uang dariku.”

Nia yang sudah tidak kaget pun hanya tersenyum tipis. “Ya, sekarang aku udah tahu dan gak sekaget sebelumnya.”

“Waktu selesai rapat waktu itu aku gak sengaja dengar kamu telpon seseorang dan butuh uang sebelum UAS. Tapi kayaknya, kamu masih kesusahan waktu itu. Jadi aku ngasih diem-diem.”

“Makasih,” lirih Nia. Ia menatap Erwin. “Aku gak akan bisa ikut UAS waktu itu kalau gak ada kamu.”

Erwin membalas senyuman tersebut dengan senyuman yang lebih manis. Waktu terasa kembali berhenti untuk Nia.

Baca Juga: Sheffield United vs Newcastle United, The Blades Rasakan Kemenangan Perdana di Liga Inggris

Ditambah, keheningan hangat di sekitarnya membuatnya nyaman. Pipinya kembali merona hebat.

DRRRT! DRRRT!

Sayangnya, semua momen syurgawi itu harus terhenti saat ponsel Nia berdering. “Sebentar,” izin Nia.

“Silahkan.” Setelah mendapat izin dari Erwin, Nia mengangkat panggilan tersebut.

“NIA, KAMU DIMANA?!”

Mendengar suara yang memekakkan telinga itu, Nia langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya.

Meski tidak menggunakan fitur pengeras suara, Erwin bisa mendengar jelas teriakan seseorang dari seberang sana.

Erwin hanya diam dan kembali menikmati rokoknya.

“A-aku masih di kantor,” jawab Nia.

Baca Juga: Vaksinasi di Kabupaten Bekasi Tahap Pertama Dipastikan Batal

“Serius? Kok rame?”

Nia menghela nafasnya, tahu seposesif apa orang yang sedang ia ajak bicara.

“Nizar, kita harus persiapan buat liputan besok, makanya karyawan lain pada sibuk,” jelas Nia dengan sabar.

“Oh,” jawab lelaki bernama Nizar itu dengan dinginnya. Nia terdiam sejenak. “Pulang sekarang!”

“E-eh? Tapi-“

“Pulang! Besok kuliah pagi!” paksa Nizar. “Itu cuman persiapan tambahan, ‘kan? Izin juga gak masalah.”

Nia menjauhkan telponnya dan menghela napasnya lagi. “Iya,” jawab Hana singkat.

“Ke sini dulu sebentar!” ketus Nizar.

Nia hanya tersenyum pasrah, tahu apa yang akan terjadi padanya. “Iya, iya. Aku tutup, ya?”

Baca Juga: Bisa Dicontoh Nih, Mengurai Sampah Organik dengan Lalat

“Mau aku antar?” tanya Erwin sesaat setelah Nia mematikan sambungan panggilannya.

“Gak usah, deh. Aku harus bantu-bantu pacarku dulu,” tolak Nia yang sedikit khawatir.

Erwin menghembuskan asap dari rokoknya tersebut dan mematikan rokoknya yang memang sudah habis.

“Kamu sadar, ‘kan kalau kamu perlunya yang lebih baik?” tanya Erwin tiba-tiba, membuat Nia yang sedang mengemasi barang-barangnya terdiam.

Nia berusaha untuk membuang kata-kata tersebut dan bertingkah seakan ia tidak pernah mendengarnya.

Ia pun beranjak dan berniat untuk pergi. “Aku duluan,” bisiknya.

“Benang merah itu gak akan kesambung kalau benang satunya lagi gak sesuai.”

Nia kembali terhenti saat Erwin kembali berucap. Ia tidak berani untuk berbalik selagi Erwin hanya menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.

Baca Juga: Pemerintah Uganda Blokir Semua Platform Media Sosial

“Lagian, aku yakin kamu udah cerita semuanya tentang laki-laki gak tahu nilai perempuan itu.”

Suara es batu dari gelas kopi yang Erwin minum berdenting saat Erwin memutar sedotannya.

“Terus, hati-hati di jalan.” (bersambung)***

Editor: Brilliant Awal


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah