Dead Apple: Without Me (Chapter 13)

- 2 Januari 2021, 09:05 WIB
Ilustrasi apel
Ilustrasi apel /PIXABAY/congerdesign



GALAJABAR - Pada chapter sebelumnya dikisahkan, di tengah perjalanan Hana yang berusaha menyelamatkan Dazai, Hana berkilas balik saat ia berbincang dengan kakaknya, Odasaku.

Odasaku mengatakan, kemampuan khusus Hana tidak selalu harus digunakan untuk membunuh.

Di saat itu pun, ia ingat tekad mendiang ibunya untuk bisa melindungi orang-orang yang ia sayang.

Ikuti kisah selanjutnya manga karya Sadrina Suhendra.

“Thinkin’ you could live without me.
Thinkin’ you could live without me.”

Baca Juga: Dead Apple: Without Me (Chapter 1)

Ango dan bawahannya bisa merasakan keributan di bangunan mereka. Semua langsung panik.

Setelah Ango membuat krunya tenang, Chuuya pun masuk. Tapi tidak sendiri, ada Hana yang sudah siap untuk melawan Ango.

“Berani sekali kau memanggilku seperti kurir!” kesal Chuuya.

Ango pun memerintahkan bawahannya untuk meninggalkan Hana, Chuuya dan dirinya.

“Ini bangunan pemerintah. Jangan harap kau bisa kabur begitu saja!” ancam Ango.

“Masalah itu terserah pada orangnya. Bukan kau!”

“Kau masih memiliki hutang padaku.”

“Bukan! Kau yang berhutang padaku!”

“Apa maksudmu?”

Baca Juga: Dead Apple: Without Me (Chapter 2)

“Jangan bersikap bodoh! Kau kira aku tidak tahu?” Arunika perak Chuuya mendadak menggelap seperti menyimpan suatu dendam yang mendalam.

“Ini soal konflik tujuh tahun lalu.” Chuuya memberi petunjuk, membuat Ango tersentak.

‘Hukum karma itu ada, Hana. Mereka yang merenggut nyawa sahabatmu pasti akan mendapatkan balasannya.’

“Kemampuan khususku, Dewi Bencana : Malaikat Penghukum!” Dengan itu, Hana sudah menggengam sebuah revolver perak bercorak indah.

Itu adalah revolver yang hanya bisa Hana gunakan dengan peluru tak terbatas. Hana menodongnya ke arah Ango.

Baca Juga: Dead Apple: Without Me (Chapter 3)

“H-Hana,” kaget Ango. Hana tiba-tiba tertawa seperti orang yang kerasukan. “Apa yang lucu?!” tanya Ango.

“Tidak, kejadian tujuh tahun lalu berhasil merenggut kedua sahabatku dan itu terjadi saat aku masih sangat-sangat berbahaya."

"Aku mendapatkan karmaku, Ango. Aku mendapatkannya! Sama seperti apa yang kau katakan dulu. Aku mendapat karma karena telah berbuat jahat.”

Hana memposisikan jarinya untuk menarik pelatuk.

“Meski begitu, kakakku tidak pernah melarangku untuk berbuat jahat selama itu bisa melindungiku. Kau pikir siapa orang yang menjebak kakakku waktu itu? Itu kau, bukan?”

Baca Juga: Dead Apple: Without Me (Chapter 4)

“Kau juga akan mendapatkan karmamu. Jangan lupa dengan kenyataan bahwa aku masihlah orang yang sama seperti tujuh tahun lalu."

"Aku masih menjadi bayangan paling kuat yang Port Mafia punya.”

BRAKK!

“Karena itulah kau payah!" Chuuya menghancurkan dinding di sampingnya. Merasa terganggu, Hana manatap Chuuya dengan tatapan mematikannya.

Terakhir Hana menatap dengan cara seperti itu adalah saat dia bertemu dengan mangsanya.

“Apa maksudmu?” tanya Ango.

Hana menurunkan senjatanya. Revolver itu menghilang menjadi abu. Hana melipat kedua tangannya di dada.

“Apa maksudmu aku menjebak Odasaku dan menuduh Dazai?”

Baca Juga: Dead Apple: Without Me (Chapter 5)

“Kaulah birokrat yang membawa Shibusawa ke Yokohama saat Konflik Kepala Naga tujuh tahun lalu. Jika aku sadar lebih awal, harusnya aku bisa menghentikan konflik itu lebih awal.”

Ango hanya menatap Chuuya. “Sayangnya, si biadab iu tidak ada niat untuk menjaga perdamaian. Yang kau lakukan waktu itu bukannya membantu tapi malah memperbanyak mayat di jalanan.”

Chuuya memperbaiki posisinya berdiri. “Dengan kata lain, kau melindunginya karena dia memiliki kemampuan khusus yang sangat khusus. Dia bisa mengendalikan orang berkemampuan khusus lainnya dalam skala nasional.”

Chuuya menatap Hana sekilas. Ia dapat melihat Hana yang hanya bisa menatap keduanya tajam.

“Karena itu, kau tidak hanya tutup mata soal kasus mayat orang-orang berkemampuan khusus di luar negeri, tapi kau juga melindunginya secara berlebih.”

Baca Juga: Dead Apple: Without Me (Chapter 6)

“Semua demi perdamaian negara ini,” balas Ango singkat. Ia sudah tidak bisa memungkiri kebenaran itu lagi.

“Kalau begitu, kau juga alasan Kaori dan Yuzuri kehilangan naywa mereka!” teriak Hana tiba-tiba, membuat Ango dan Chuuya menatapnya. Kini ia tahu kebenarannya.

Chuuya dapat melihat tatapan penuh dendam yang ada di mata Hana. “Aku tidak akan memaafkanmu, Ango!”

“Hana, tenanglah!” bisik arwah Kaori yang masih bersamanya itu. “T-tapi, kalian…” Hana memeluk dirinya sendiri, berusaha untuk tidak menangis.

“Kami sudah tenang. Kau juga bisa tenang sekarang,” balas arwah Yuzuru.

Chuuya yang melihatnya sedikit meneliti apa yang terjadi pada Hana. “Otonashi Hatsune, pemanggil dan pengendali arwah di sekitarnya.

Baca Juga: Dead Apple: Without Me (Chapter 7)

Dia sama bringasnya seperti Kyu. Oleh sebab itu bos memanfaatkannya bersama Kyu dulu,” gumam Chuuya dalam hati yang akhirnya paham dengan kondisi Hana yang sering bicara sendiri.

“Aku akan melakukan apapun demi negara ini.” Ango mengulangi kata-kata itu lagi, membuat Chuuya kembali geram dan kesal.

Chuuya melangkah maju. Ia menarik kerah kemeja Ango dan mengangkatnya, membuat Ango tercekik.

“Jaga mulutmu, Dokter Kacamata!” geram Chuuya dingin namun menusuk.
“Jika dulu kau bisa mengeluarkannya, mungkin keenam temanku masih bisa menghirup udara Yokohama sampai sekarang. Tidak hanya aku,” Chuuya menatap Hana lalu kembali pada Ango.

Halaman:

Editor: Brilliant Awal


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah