Dead Apple: Without Me (Chapter 18)

- 7 Januari 2021, 07:52 WIB
Ilustrasi apel
Ilustrasi apel /PIXABAY/congerdesign


GALAJABAR - Pada chapter sebelumnya dikisahkan, setelah terungkap niat asli Shibusawa yang ingin membawa salah satu bawahan Dazai, Nakajima Atsushi, Hana dibantu oleh Atsushi, Kyouka dan Akutagawa untuk mengalahkan Shibusawa.

Di waktu yang bersamaan, Dazai kembali muncul di hadapan istrinya dan sekali lagi kembali pada keluarganya, mengungkap bahwa dia tidak mungkin menghianati istri dan putrinya.

Ikuti kisah selanjutnya dari manga karya Sadrina Suhendra.

Baca Juga: Dead Apple: Without Me (Chapter 5)

“Kembalilah bekerja, Tsujimura. Kita masih punya banyak tugas.” Ango mengingatkan bawahannya itu.

“Tidak mungkin,” gerutu Tsujimura yang mulai mengantuk karena kerja lemburnya.

“Akibat konfliknya lumayan besar, tapi tidak ada penduduk yang terluka.”

Ango mendengarkan sambil terus menulis laporan. “Senior,” panggil Tsujimura.

“Hm?” Ango menunggu Tsujimura untuk melanjutkan pertanyaannya.

“Menurutmu, apa inti dari konflik ini?”

Baca Juga: Dead Apple: Without Me (Chapter 6)

“Aku tidak bisa menjawabnya hanya dengan satu sudut pandang. Kau akan tertidur saat aku menjawab. Kembali bekerja!”

“Ayolah, senior!”

“Pada akhirnya, konflik ini sangat sederhana, kan? Kenapa kau harus menuduh suamiku?”

Tsujimura dan Ango menoleh. “Nyonya Hana?” bingung Tsujimura.

“Kau tahu serumit apa pikiran Dazai,” ucap Ango.

“Apa ini?” tanya Tsujimura saat Hana menyerahkan sebuah map kecoklatan.

Baca Juga: Dead Apple: Without Me (Chapter 7)

“Bukti bahwa Dazai tidak bersalah. Karena kau sahabat Dazai, aku takut malah kau yang dihukum atas tuduhan pencemaran nama baik.”

Hana berbalik untuk kembali pergi. “Nah, sampai jumpa!”

“I had to go and find out for them. So tell me how's it feel.”

“Apa Anda sadar dengan trik ini?” tanya Chuuya pada bosnya, Mori.

“Dazai bertindak sesuai keinginannya. Aku mengira ia butuh bantuanmu,” Mori memberi tahu Chuuya rencananya.

“Sebagai pembuka.”

Baca Juga: Dead Apple: Without Me (Chapter 8)

“Jadi, aku hanya aksi pembuka?”

“Dalam konflik ini, Dazai adalah bintang dan Hana adalah heroinnya.

Ini seperti kisah pengkhianatan cinta.”

“Dan balasanku?” tanya Chuuya lagi.

“Kembalinya ketertiban kota ini.”

“Kedamaian kota, ya?”

“Kerja bagus,” puji Mori.

“Kau melupakan satu hal, Bodoh!” Chuuya menoleh untuk melihat siapa yang mengatainya.

Baca Juga: Dead Apple: Without Me (Chapter 9)

Hana langsung melabrak Chuuya. “Maafkan ketidak-sopananku, Bos. Tapi, Chuuya mulai melempar tugasnya padaku!” protes Hana.

“Itu memang jatahmu. Kau hanya ingin cepat pulang untuk bertemu Dazai, kan? Dasar budak cinta!”

Chuuya berbalik dan meninggalkan ruangan tersebut.

“Jangan berterimakasih padaku, Bos. Aku hanya menjalani perintahmu.”

“Perintah omong kosongmu!” maki Hana.

“Hana, Yokohama adalah sebuah kertas putih bersih. Pada akhirnya, masalah akan selalu datang.

Baca Juga: Dead Apple: Without Me (Chapter 10)

Kau harus tahu, sebuah novel tertidur di kota ini. Odasaku pasti bangga padamu.”

“Kakak,” lirih Hana.

“Kau boleh pulang. Aku yakin putrimu sedang menunggumu.”

Hana tersenyum. “Terima kasih, Bos!”

“Apapun untuk ekseskutif kesayanganku.” Bagi Mori, Hana adalah asset Port Mafia yang paling berharga.

Karena itu, Mori sedikit takut saat Dazai memutuskan untuk berkhianat pada Port Mafia karena Hana pasti akan ikut dengannya.

“Tell me how's it feel sittin' up there?

Feeling so high but too far away yo hold me.”

Baca Juga: Dead Apple: Without Me (Chapter 11)

“Permisi,” Terkejut karena kehadiran Hana yang mendadak, semua yang ada di ruangan langsung mengangkat senjata mereka.

“Tunggu! Aku datang sebagai istri Dazai, bukan musuh kalian dari Port Mafia!” kesal Hana. “Ngomong-ngomong, dimana Dazai?”

“Coba lihat ke samping,” ujar Atsushi. Hana langsung menoleh.

“D-DAZAI?!” Kagetnya saat ia melihat suaminya sudah menelungkup di atas sofa karena kelelahan.

PLAKK!!

“Sakit!!!”

Baca Juga: Dead Apple: Without Me (Chapter 12)

“Bangun, kau sialan! Kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan pada Diana!”

Dazai hanya mengaduh kesakitan saat Hana memukulny keras.

“Woah, seperti yang dibayangkan dari Eksekutif Port Mafia yang Paling Sadis,” lirih Atsushi.

Hana menghela nafasnya. “Apa jam kerja Dazai sudah selesai?”

“Hm, jam kerjanya sudah habis dari dua puluh menit yang lalu,” balas Atsushi.

“Tapi dia tidak banyak bekerja dengan alasan lelah bekerjasama dengan Shibusawa Tatsuhiko,” lanjut Kunikida.

Hana hanya bisa menepuk jidatnya. “Dasar! Itu sih resiko mau sok jadi pahlawan Yokohama,” gumam Hana.

Halaman:

Editor: Brilliant Awal


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah