Dead Apple: Without Me (Chapter 16)

- 5 Januari 2021, 08:32 WIB
Ilustrasi apel
Ilustrasi apel /PIXABAY/congerdesign



GALAJABAR - Pada chapter sebelumnya dikisahkan, dengan persetujuan yang Chuuya dan Ango buat, Chuuya akan ikut ambil bagian dalam proses penyelesaian konflik tersebut.

Hana yang masih dituntuki rasa takut pun berhasil diyakinkan oleh Chuuya bahwa Dazai akan baik-baik saja.
Ia juga tahu kalau Dazai memang merencakan semua itu dan tahu kalau Chuuya akan datang padanya.

Ikuti kisaH selanjutnya dari mangga karya Sadrina Suhendra.

“Chuuya!!!”

“Nyonya Hana!” Sebelum Hana ikut melompat, Tsujimura menarik tangan Hana. Hana pun terduduk di lantai pesawat itu. Ia melihat Chuuya yang mulai mengamuk.

Baca Juga: Dead Apple: Without Me (Chapter 1)

“Wahai pemberi berkah kegelapan, atas nama keserakahanku, izinkan aku untuk mengalahkan musuh-musuhmu. Bangkitkanlah aku sekali lagi!”

Tubuh Chuuya langsung tertutupi oleh segel korupsinya.
Chuuya mengamuk dan menjadi budak dari kemampuan khususnya sendiri.

Hana hanya bisa mendengar suara teriakan Chuuya dari kejauhan itu.

“Hebat,” puji Tsujimura.

“For the Tainted Sorrow adalah kemampuan yang memungkinkan pemiliknya mengendalikan gravitasi."

"Tapi saat ia sudah terkontaminasi seperti ini, ia adalah budak dari gravitasi itu sendiri,” jelas Ango pada Tsujimura.

Baca Juga: Dead Apple: Without Me (Chapter 2)

“Jadi, dia tidak memiliki kendali hingga mati?” tanya Tsujimura lagi.

“Kemampuan penetral No Longer Human milik Dazai adalah satu-satunya yang bisa mengakhiri semua ini. Tanpa itu, dia tamat.”

“Tidak mungkin,” lirih Tsujimura.

Selagi Chuuya mengamuk, Hana selalu menatap ke bawah.
Ia selalu menatap cahaya-cahaya redup keorenan yang samar milik Chuuya itu. Dia sangat-sangat berharap pada Chuuya. “Chuuya, aku mohon!”

Semuanya hampir selesai, hingga Chuuya berhasil masuk ke dalam kapsul gelembung yang melindungi tubuh Dazai.
Di bawah alam sadarnya, Chuuya memukul Dazai sekuat tenaga.

Dazai langsung terbatuk. Tapi, pukulan Chuuya itu berhasil memecah kapsul penangkal racun yang selama ini Dazai sembunyikan di balik giginya.

Baca Juga: Dead Apple: Without Me (Chapter 3)

Gelembung itu mulai kehilangan kestabilannya.

Chuuya memuntahkan banyak darah, mengingat ia sudah berada di luar batasnya. Beruntung, Dazai pun sudah sadar.

Dazai menyentuh pipi Chuuya dan menetralkan mode korupsi tersebut.

“Kau memakai mode korupsi lagi, ya?” tanya Dazai yang masih menutup matanya. “Indah sekali.”

“Memang kenapa?” tanya Chuuya dengan suara yang serak karena kelelahan. “Hana sudah tak berdaya di atas sana.

Dia bukan wanita bringas yang aku kenal saat sudah menyangkut cintanya padamu, OHOK!” Chuuya terbatuk karena terlalu memaksakan diri untuk bicara.

Baca Juga: Dead Apple: Without Me (Chapter 4)

“Cara yang cukup kejam untuk membangunkan Si Putri Salju,” celoteh Dazai.

Chuuya mengeratkan giginya. “Salahmu sendiri yang memilih menyembunyikan panangkal racun itu di bawah gigimu.”

Mereka pun terjatuh ke tanah. “Ayo pergi!” rusuhnya. Dazai menepuk kepala Chuuya. “Jangan dulu bergerak!”

Ia tahu selemah apa tubuh Chuuya setelah mode korupsi memperbudak tubuhnya.

“Kabutnya belum bersih. Aku tidak ingin melindungimu dengan kemampuanku di situasi seperti ini.”

Kabut memang sudah lenyap, tapi Dazai kembali membuat kabut yang baru. “Masih ada lagi?” tanya Chuuya.

“Tidak, ini baru permulaan.”

Baca Juga: Dead Apple: Without Me (Chapter 5)

“Sial!” gerutu Chuuya. “Aku tidak bisa bergerak.” Dengan itu, Chuuya pun tumbang. Dazai hanya tersenyum.
“Aku sudah memperkirakan ini,” lirihnya. “Tapi, sisanya terserah pada mereka.”

“Diana, Papa berhutang maaf. Mungkin Papa akan pulang sedikit lebih larut,” gumam Dazai dalam hati.

Dazai merogah sakunya. Ia tersentak saat tangannya menyentuh sesuatu. “Tidak apa, Diana baik-baik saja.

Tapi, Diana tidak yakin dengan keadaan Mama,” jiwa putrinya kembali berbicara dengan dirinya.

Dazai hanya tersenyum. “Aku yakin dia bisa menahannya sedikit lebih lama.”

Baca Juga: Dead Apple: Without Me (Chapter 6)

Di sisi lain, Hana menyadari kabut merah yang mengitari Yokohama. Ia pun berlari menuju ruangan Ango. “Apa yang terjadi?!”

“Dalam tiga-puluh menit, kabut akan menutupi Wilayah Kanto, dua-belas jam untuk seluruh wilayah Jepang dan seratus tujuh puluh jam seisi planet akan tertutupi!” lapor seseorang.

“Organisasi Khusus Inggris menelpon!”

“Sambungkan!” Hana mendahului Ango. Dan saat Hana menyadari organisasi mana yang menelponnya, ia Terkejut. “Order of the Clock Tower?”

“… Untuk melindungi dunia, kami sudah mengirim para pengguna kemampuan khusus bertipe pembakar yang akan sampai saat fajar dalam tiga puluh menit.”

Baca Juga: Dead Apple: Without Me (Chapter 7)

Tubuh Hana bergetar hebat dan napasnya memberat.

“Yokohama… akan dibakar… habis?” lirih Hana dan Ango secara bersamaan, takut dengan apa yang akan terjadi pada tanah kelahiran mereka.

Hana paham dengan pasti kalau maksud dari wanita dari organisasi tersebut adalah untuk menghanguskan inti dari konflik, Shibusawa.

Tapi tidak hanya itu, Yokohama akan dijadikan lautan api.

Baik itu Hana dan Ango tidak ingin Yokohama dihancurkan begitu saja. Terutama, Hana lahir dan dibesarkan di kota tersebut.

Sepersekian detik kemudian, Hana sadar bahwa jasad kakaknya dimakamkan di tanah Yokohama.

Halaman:

Editor: Brilliant Awal


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah